>Menjadi Hamba Saja

>di antara manusia ada yang Allah berikan skenario hidup yang pahit. ia harus menjalani fase hidup dalam jurang kemaksiatan. di antara mereka ada pula yang Allah berikan peran sebagai ahli ibadah yang segenap waktunya ia habiskan untuk mengabdi kepada Allah.
dua peran ini adalah station atau maqam yang harus dilalui. jika salah satu dari mereka terperosok semakin jauh dalam kemaksiatan, atau terpesona dengan maqam ibadahnya, maka ia tidak akan sampai kepada Allah.
suatu hari seorang ahli ibadah (abid) dari kalangan bani israil sebelum islam berjalan di suatu kawasan. selama dalam perjalanan ia selalu dinaungi awan sebagai salah satu bentuk karamah yang Allah berikan kepadanya. tiba-tiba di hadapannya muncul seorang ahli maksiat (khali’).
khali’ membatin dalam hatinya, “ia adalah ahli ibadah. aku akan duduk bersamanya. barangkali saja melalui kebersamaanku denganya Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Allah akan mengentaskanku dari jurang kemaksiatan.”
mendekatlah khali’ kepada ‘abid. mereka duduk bersama. kini giliran sang ‘abid bergumam dalam hati, “ia adalah ahli maksiat. kalau aku biarkan ia berlama-lama dekat denganku maka kesucianku bisa ternoda. kemuliaanku sebagai ahli ibadah bisa tercoreng. aku harus usir dia.”
“pergi kau!”
sang khali’ dengan perasaan hina meninggalkan ‘abid. hatinya semakin hancur. jiwanya semakin merasa butuh kepada Allah. dirinya semakin merasa rendah di hadapan Allah.
setelah beberapa hari dari kejadian ini Allah mewahyukan kepada nabi di zaman itu untuk mengabarkan bahwa seluruh dosa khali’ telah diampuni dan seluruh ibadah ‘abid tertolak di sisi Allah.
awan yang dahulu selalu menaungi ‘abid kini berpindah menaungi khali’.
teman-teman, maksiat yang diiringi kerendahdirian dan rasa butuh kepada Allah lebih baik dari pada ibadah yang diirigi rasa kagum diri dan kesombongan. karena pada hakikatnya kita adalah hamba saja yang tidak memiliki daya upaya apapun. ketaatan yang kita bisa laksanakan itu adalah berkat pertolongan Allah yang mendorong hati dan seluruh anggota tubuh kita untuk taat. bukan dari kita sendiri.
namun untuk menjadi lebih baik bukan berarti kita harus jatuh dulu dalam kemaksiatan. alangkah lebih baik ketaatan yang sudah kita lakukan sepenuhnya kita sempurnakan dengan tetap merasa rendah dan butuh kepada Allah. serta dengan tetap menghormati saudara kita yang masih dalam skenario kemaksiatan.
semoga Allah menjadikan kita orang-orang dengan kehambaan yang tulus di hadapan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s