Disfungsi Shalat

​Tulisan singkat ini adalah saduran lepas dari salah satu karya terkenal Imam Abdullah Ba ‘Alawi Al-Haddad berjudul Al-Nashaih Al-Diniyyah, tepatnya di sebagian kecil dari pembahasan tentang shalat. 

Kata shalat saya artikan dengan kata sembahyang, sebagaimana orang-orang tua kita dulu menyebut shalat dengan sembahyang, dengan netepan (Sunda) dan tentu dengan bahasa daerah nusantara lainnya. Sebagaimana guru-guru kita dulu menyebut tempat sembahyang dengan istilah langgar, tajuk, surau dan lain-lain. Jadi semacam penghargaan terhadap kedaerahan, loyalitas terhadap lokalitas, yang salah satunya adalah bahasa. 

Masih terekam jelas di benak saya manakala guru ngaji kami beberek saat adzan mulai berkumandang, “Gidah pada sembahyang lu di langgar!” 

Langgar untuk anak Jakarta dan sebagian putra Jawa seperti tajuk bagi cah Cirebon dan surau buat anak Sumatera. Langgar selain sebagai tempat kami mengaji dan melantunkan puji-pujian khas daerah juga sekaligus jadi tempat bermalam kami yang sudah dianggap remaja dan mampu mandiri. Langgar bukan cuma sebagai tempat sembahyang. 

Dan, sekali lagi, shalat saya artikan sembahyang dalam tulisan ini. Semoga tidak menimbulkan alergi. Dan jangan cepat emosi! Silahkan juga lihat tulisan saya https://penawajdi.wordpress.com/2014/02/18/catatan-kecil-jumat/

Bismillahirrahmanirrahim.

Sembahyang adalah tiang agama. Ia bagian terpenting kedua setelah syahadat kita, persaksian kita bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.

Perumpaan sembahyang bagi agama seperti kepala bagi tubuh. Tanpa kepala, tubuh setiap manusia tidak akan mungkin hidup. Tanpa sembahyang, agama setiap manusia tidak akan hidup, pasti mati.
Sembahyang yang sesungguhnya pasti mencegah si pelaksana sembahyang dari perbuatan keji dan munkar. Pasti!
Ini janji Allah:

(وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)

“Dan dirikanlah sembahyang. Sesungguhnya sembahyang itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

[Surat Al-Ankabut 45]

Lalu kenapa masih ada saja orang yang sembahyang juga tetapi korupsi juga? 

Sembahyang juga tetapi begitu mudah menyakiti sesama? 

Sembahyang juga tetapi menebar kebencian di mana-mana? 

Sembahyang juga tetapi hatespeech di sosial media bahkan di dunia nyata?

Begini duduk persoalannya. Sembahyang memiliki bentuk zahir/ bentuk lahir dan esensi batin. Bentuk lahir sembahyang meliputi berdiri, rukuk, sujud dan segala gerakan sembahyang.

Esensi batin sembahyang meliputi kekhusyukan, hadirnya hati, sempurnanya keikhlasan, perenungan makna bacaan, mengagungkan Allah dan segenap sikap batin kita.

Bentuk lahir dan esensi batin dari sembahyang harus terlaksana semuanya. Harus terlaksana kedua-duanya. Bentuk lahir itu tugas anggota badan. Esensi batin itu tugas hati dan sirr. Hati dan sirr inilah objek pandangan Allah terhadap hambanya, bukan kostum dan warna kulitnya. 

Hilangnya fungsi sembahyang yang bisa mencegah kekejian dan kemungkaran akibat tidak terlaksananya satu dari dua bagian sembahyang itu.

Yuk kita berkaca! Sudahkan kita laksanakan kedua bagian itu?

Imam Ghazali, Rahimahullah, berkata, “Perumpamaan orang yang melaksanakan bentuk lahir sembahyang dan melalaikan esensi batinnya seperti orang yang mempersembahkan bangkai kepada seorang raja. Dan perumpamaan orang yang ceroboh terhadap bentuk lahir sembahyang seperti orang yang mempersembahkan persembahan yang buntung anggota badannya serta cacat matanya. Kedua orang ini layak dikenakan hukuman dan sanksi sang raja lantaran persembahan yang buruk. Sedangkan engkau mempersembahkan sembahyangmu kepada Tuhanmu. Maka hindari persembahan yang buruk macam tadi atau engkau layak menerima sanksi dan hukuman-Nya!”

Mari introspeksi! Sudahkah sembahyang kita mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar? Atau masih tetap terjebak dalam kekejian dan kemunkaran lantaran persembahan sembahyang kita sedemikian buruk?

Semoga Allah melindungi kita dari sembahyang yang tidak sempurna.

Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 5-8

5 – كما أخرجك ربك من بيتك بالحق وإن فريقا من المؤمنين لكارهون

“Sebagaimana Tuhanmu mengeluarkanmu dari rumahmu dengan sebenar-benarnya. Dan sesungguhnya sebagian orang-orang beriman tidak suka.”

 

Ayat ini menyatakan sebagian orang-orang beriman ada yang tidak suka dengan keputusan Nabi dalam penyamaratan harta taklukan perang sebagaimana mereka tidak suka dengan keputusan Allah saat memerintahkan Nabi keluar rumah untuk memerangi orang musyrik Mekkah.

 

Saat itu Abu Sufyan pulang dari perjalanan dagang dari Syam (Syiria sekarang). Ia memimpin kafilah dagang. Kafilah dagang biasa disebut ‘Ir’, yang hanya berisi 40 orang dan bukan pasukan yang disiapkan untuk berperang. Perjalanan dari Mekkah menuju Syam atau sebaliknya pasti lewat jalur yang dekat dengan pusat kota Madinah. Mengetahui kabar ini, Rasulullah saw. dan para sahabat keluar dari Madinah, mencegat kafilah dagang Abu Sufyan untuk mendapatkan harta taklukannya. Perlu diketahui juga, ini bukan aksi semena-mena dari orang mukmin di Madinah. Tetapi reaksi dari perbuatan musyrik Quraisy yang beberapa bulan sebelumnya mengusir seorang sahabat Anshar yang sedang melakukan Umrah. Lama menunggu kafilah dagang Abu Sufyan, tidak membuahkan hasil. Ternyata Abu Sufyan telah mengetahui rencana orang mukmin. Ia mengambil jalur Al-Sahil, jalur yang tidak biasa dilaluinya dan selamat dari cegatan orang mukmin.

 

Kabar kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan yang hendak dicegat orang mukmin sampai ke telinga orang musyrik Mekkah. Abu Jahal mempersiapkan hampir seribu pasukan perang. Ini biasa disebut ‘Nafir’, pasukan terlatih lengkap dengan persenjataan, berbeda dengan ‘Ir’. Sebenarnya Abu Sufyan telah menyuruh Abu Jahal untuk mengurungkan rencana menyerang orang mukmin Madinah, toh kafilah dagang Mekkah selamat. Harta perniagaan saudagar-saudagar Mekkah yang dititipkan di kafilah itu tidak jadi dirampas. Tapi Abu Jahal kukuh untuk tetap terus berangkat ke Badar.

 

Persiapan Mekkah menyerang Madinah diketahui oleh Rasulullah saw. Beliau bermusyawarah dengan para sahabat. “Allah memang telah menjanjikan kepadaku satu dari 2 rombongan (Ir atau Nafir),” demikian sabda Rasulullah saw. Para sahabat sepakat untuk menghadapi apapun, termasuk menghadapi hampir seribu pasukan (nafir) yang telah disiapkan Abu Jahal dari Mekkah. Dalam musyawarah itu Abu Bakar dan Umar menguatkan tekad kaum mukmin untuk berangkat melawan musyrik Mekkah. Lalu beberapa sahabat Anshar memperkuat lagi.

 

“Apapun yang terjadi, kami ikut dan taat kepadamu, wahai Rasulullah,” kata sebagian sahabat. Rasulullah saw. tersenyum. Sebagian besar sahabat setuju berangkat perang. Namun ada sebagian mereka ada yang tidak setuju dan tidak suka dengan keputusan ini, dengan alasan tidak siap menghadapi bala tentara Musyrik Mekkah. Dan ini diabadikan dalam ayat berikut:

 

 

6 – { يجادلونك في الحق بعد ما تبين كأنما يساقون إلى الموت وهم ينظرون

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran setelah kebenaran itu jelas bagi mereka seolah mereka digiring kepada kematian padahal mereka melihat.”

Orang-orang Madinah yang tidak setuju dengan keberangkatan perang melawan musyrik Mekkah beralibi bahwa kekuatan mereka tidak sebanding. Mereka tidak suka dengan keputusan ini. Tampak pada mereka gambaran kematian yang menakutkan. Padahal jelas Allah mewajibkan peperangan dimaksud dan mereka megetahui kewajiban itu.

 

Tentang kewajiban berperang dan haramnya berlari dari medan peperangan, fardhu ‘ain atas orang yang tinggal di radius 2 marhalah (90 km) dari medan berperang. Haram hukumnya melarikan diri dari medan peperangan saat musuh hanya 2 kali lipat, sebagaimana nanti dijabarkan kembali di ayat 15 Surat ini.

 

7 – وإذ يعدكم الله إحدى الطائفتين أنها لكم وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم ويريد الله أن يحق الحق بكلماته ويقطع دابر الكافرين

Dan ingatlah saat Allah menjanjikan kepada kalian satu dari dua rombongan, bahwa salah satunya untuk kalian. Kalian menginginkan rombongan yang tanpa kekuatan perang untuk kalian. Dan Allah menginginkan Kebenaran menjadi nyata dengan kata-katanya dan terputusnya ujung orang-orang kafir.”

 

Dua rombongan yang dimaksud ayat di atas adalah antar ‘Ir’ dan ‘Nafir’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Orang-orang Madinah yang tidak menyukai keputusan berperang melawan Musyrik Mekkah adalah lantaran sejak awal mereka berharap dipertemukan dengan rombongan kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan yang Cuma 40 orang dengan harta taklukan atau ghanimah menggiurkan, bukan rombongan 1000 pasukan perang terlatih Mekkah pimpinan Abu Jahal. Tapi Allah punya kehendak lain. Maka Allah mewajibkan berperang. Tidak lain karena Allah ingin menyatakan yang benar itu benar dan ingin membuktikan bahwa Dia kelak akan memutus kekuatan orang-orang kafir dan memenangkan pasukan muslim. Ini menjadi kenyataan. Abu Jahal dan sekitar 70 jagoan Musyrik Mekkah mati di medan Badar.  Hendaklah orang-orang Madinah yang enggan dengan keputusan wajib berperang Badar mengingat peristiwa ini.

 

 

 

8 – ليحق الحق ويبطل الباطل ولو كره المجرمون المشركون ذلك

“Agar Dia membenarkan Kebenaran dan membatalkan kebatilan meskipun para pendosa itu tidak suka.”

 

Keputusan Allah mempertemukan mukmin Madinah dengan bala tentara Musyrik Mekkah yang terlatih itu sebagai cara Allah membuktikan yang benar itu benar, Nabi Muhammad Saw dan orang-orang beriman itu benar. Juga untuk menghapus kebatilan, yakni kekufuran yang menjadikan orang Mekkah mengingkari kerasulan Muhammad.

 

Demikian kehendak Allah beserta cara merealisasikannya lewat peristiwa Badar, perang terbesar pertama dalam sejarah Islam, akan tetap terlaksana meskipun orang-orang Musyrik itu tidak suka.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 1-4

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Surat Al-Anfal, 75 ayat, Madaniyyah kecuali ayat 30 sampai ayat 36.

Kaum muslimin berselisih tentang harta taklukan perang atau ghanimah yang juga disebut Al-Anfal, judul Surat ini. Barisan muda berdalih, “Harta taklukan ini untuk kami, karena kami terjun langsung ke medan pertempuran.” Barisan senior berargumentasi, “Jangan merasa paling berhak! Kami melindungi kalian dari belakang di bawah panji-panji. Kalau kocar-kacir, kalian juga pasti berlari kepada kami.” Maka turunlah ayat berikut

1 –  يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَنفَالِ قُلِ الأَنفَالُ لِلّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُواْ اللَّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ وَأَطِيعُواْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang harta taklukan perang. Katakanlah: “Harta taklukkan perang kepunyaan Allah dan Rasul, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.””

Hukum harta taklukan perang atau Al-Anfal sejatinya urusan Allah. Dialah yang menetapkan hukumnya dan Rasulullah yang membagikannya sama rata sesuai ketetapan Allah. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Pembagian sama rata ini sebelum ada ayat tentang Khumus, yakni bagian seperlima yang diperuntukkan bagi Rasul. Ayat ini lebih mengutamakan ketakwaan kaum muslim, ketaatan pada Rasul dan perbaikan hubungan persaudaraan antara mereka, tidak saling berebut harta taklukan perang dan tetap saling mengasihi. Inilah yang harus diwujudkan oleh orang-orang beriman.

Kata Al-Anfal adalah jamak dari Nafal, yang berarti bonus atau kelebihan. Sebagaimana solat sunnah disebut dengan nafilah atau kelebihan dari solat wajib, Al-Anfal ini adalah kelebihan dari Allah untuk Umat Muhammad. Dalam syariat umat sebelumnnya, harta taklukan perang tidak dihalalkan. Umat sebelum Muhammad tidak boleh mengambilnya, tetapi ditinggalkan di medan peperangan. Inilah sebab mengapa ghanimah disebut Al-Anfal  atau bonus untuk umat Islam (Ahmad Al-Shawi)

Setelah memerintahkan takwa kepada-Nya, mentaati Rasul-Nya dan menjaga hubungan baik sesama orang beriman, Allah menjabarkan sejatinya orang beriman dalam ayat berikut.

 

2 – إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون

3 – الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون

 

“Hanya bisa disebut beriman mereka yang ketika Allah disebutkan, hati mereka takut. Dan ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, iman mereka bertambah, serta hanya kepada Tuhan mereka berserah diri.”

 

Dalam ayat ini Allah menjelaskan sebagian ciri-ciri orang yang imannya sempurna. Ada 5 ciri. Tiga yang pertama merupakan sikap batin. Lainnya merupakan sikap lahiriah. Pertama, orang beriman saat disebutkan ancaman Allah, hatinya takut. Kaitannya dengan ayat ini antara lain ancaman merusak hubungan sesama manusia hanya karena berebut harta taklukan perang. Kedua, orang beriman ketika tanda-tanda kekuasaan Allah dibacakan, iman mereka bertambah. Tanda-tanda kekuasaan Allah atau ayat-ayat-Nya bisa berupa ayat Qauliyah, yaitu Al-Quran, maupun ayat Kauniyah, yaitu segala penciptaan alam semesta ini. Untuk melatih sikap yang pertama dan kedua ini, perlu tafakkur, perlu latihan merenungkan.

Medan tafakkur, selain ancaman dan janji Allah, serta kekurangan diri sendiri, juga tafakkur terhadap ayat-ayat Allah. Inilah mengapa tafakkur sesaat saja lebih baik daripada ibadah seribu tahun tanpa merenungi makna ibadah tersebut. (Syaikh Nawawi, Nasaih al-Ibad)

 

Ketiga, orang beriman hanya berserah diri kepada Allah, pasrah ‘bongkokan’. Tawakkal dan bersandar hanya kepada Allah, bukan kepada selain Allah. Bukan kepada harta, jabatan, bahkan bukan kepada ilmu dan amal. Sikap tawakkal yang menambahkan keimanan adalah tawakkal yang dibarengi dengan yakin. Saat kita yakin bahwa Allah menjamin semua rizki makhluk-Nya, dan tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati, maka inilah iman yang sempurna.

 

“Yakin itu adalah iman paripurna,” demikian sabda Rasulullah saw. (Abdullah al-Haddad, al-Nasaih al- Diniyyah). Dampaknya tidak akan ada perilaku serakah dan berebut harta duniawi, dalam konteks ayat ini harta taklukan perang.

 

Keempat, orang beriman melaksanakan solat dengan syarat, rukun serta adabnya. Solat memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Ke atas, solat untuk mengingat Allah. Horizontalnya, solat harus mencegah pelakunya dari berbuat keji dan mugkar. Orang yang melaksanakan solat yang sesungguhnya tidak akan bertengkar hanya sebab memperebutkan harta dunia. Kelima, orang beriman bersedia mendermakan sebagian hartanya untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridhai Allah, tidak pelit dan terhindar dari sifat egois.

 

4 – أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم

“Mereka itulah orang beriman yang sebenarnya. Bagi mereka kedudukan di sisi Tuhan dan ampunan serta rizki yang mulia.”

 

Janji Allah bagi mereka yang iman dengan sebenar-benar iman – tanpa keraguan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, temasuk perihal pembagian harta taklukan perang dengan sama rata – adalah kedudukan yang istimewa di dunia sebagai orang-orang yang dicintai-Nya dan di akhirat dengan surga. Selain itu Allah menjanjikan orang beriman dengan ampunan dan rizki yang mulia. Dalam ayat ini, maghfirah atau ampunan didahulukan atas rizki. Karena untuk memperoleh perlakuan baik berupa pelimpahan rizki, seseorang tentu lebih dahulu menjadi orang yang disayangi dengan dimaafkan segala kesalahan kesalahannya. Setelah itu, baru diberikan apa yang ia butukan dan yang ia mau.

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Tiga Pengurus Orang Beriman dan Satu-Satunya Khalifah

Kepada yang terlahir di rumah Tuhan dan

Terdidik di rumah Nabi

Mohonkan hatiku menjadi rumahNya

Dan tubuhku sebagai kediamannya.

 

Kepada pemilik dua cahaya

Biarkan kami menemukan titik

Cahaya dalam gelap dunia yang tunduk di hadapmu

Dan tertolak di hatimu.

 

Kepada yang ketegasannya lebih dikenal

Daripada kecerdasan dan kezuhudannya

Izinkan kami tertawa

Atas ketegasan si bodoh yang serakah.

 

Kepada yang keramatnya disembunyikan Tuhan

izinkan kami membelakangi kemuliaan

yang rakus khalayak dan haus pujian

di keramaian

Memahami Syariat dan Tidak Menjualnya

Soleh atau saleh, kadang-kadang disebut dengan kesalehan, ada dua: kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Kesalehan individual yang kaitannya dengan hak-hak Tuhan. Seperti sembahyang, puasa, sedekah wajib dan lainnya. Ini penting dan wajib dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhannya.
Namun tidak kalah pentingnya, kesalehan sosial. Kesalehan dengan wujud pelaksanaan kita atas hak-hak sesama manusia. Kesalehan sosial ini juga harus senantiasa dijaga dan dirawat dengan usaha yang sungguh-sungguh.
Lebih-lebih, kesalehan social itu memiliki nilai universal. Artinya, kebenaran kesalehan sosial ini diakui oleh segala agama, budaya, adat-istiadat, tradisi dan bangsa apapun.
Beda dengan kesalehan individual yang tata caranya diatur oleh ajaran masing-masing. Sembahyang orang non muslim misalnya, beda dengan sembahyang muslim atau solat. Bahkan yang tidak bisa woles anti dengan istilah sembahyang untuk menamai sembahyang orang islam atau solat. Mudah-mudahan bisa dipahami. 
Berkata jujur, tidak berbuat curang dan korup, berbuat baik kepada tetangga, menjaga alam dan lingkungan, bekerja dengan total dan penuh dedikasi, bergaul dengan orang lain yang berbeda keyakinan secara baik, memandang semua manusia dengan persamaan hak dan bersikap adil. Demikianlah kesalehan sosial diajarkan oleh semua agama, termasuk oleh agama Islam, oleh syariat Islam.
Syariat adalah sinonim dari agama. Syariat bersumber dari Nash atau teks Al Quran dan Hadits. Syariat adalah satu hal. Sedangkan pandangan terhadap syariat, pemahaman terhadap syariat adalah satu hal lain yang berbeda.
Syariat selalu benar. Sedangkan pemahaman seseorang terhadap syariat bisa benar, bisa salah. Syariat sudah tentu benar. Sementera penjelasan seseorang tentang syariat islam bisa benar, bisa salah.
Karenanya para ulama terdahulu seringkali menutup penjelasan mereka dengan ucapan “Wallahu a’lam bishshawab.” Sebuah sikap rendah hati. Sebuah sikap yang lahir dari kesadaran bahwa: sebuah pemahaman dan penjelasan terhadap syariat belum tentu benar.
Berangkat dari relatifitas kebenaran dalam pemahaman terhadap syariat ini, sudah selayaknya kita bersikap toleran terhadap perbedaan mazhab dan golongan. Bersikap toleran, bahkan terhadap non muslim yang dijamin oleh negara. Toh, non muslim bukan orang yang wajib menerima pembebanan syariat atau taklif.
Apalagi terhadap saudara-saudara kita yang Syiah, Ahmadiyah dan lainnya. Tidak ada istilah kafir terhadap mereka, karena mereka juga menghadap ke kiblat yang sama. Dalam term tauhid  disebut dengan ahlul qiblah yang keberadaannya sama dengan kita.
Dengan sadar dan penuh kerendahan hati mari kita ucapkan, “Mazhabuna shawab, yahtamilul khatha’. Wa mazhabu ghairina khata’, yahtamilush shawab.”
“Pandangan saya benar dan masih mungkin mengandung kesalahan. Pandangan orang lain salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran.”
Inilah sikap yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat serta generasi ketiga yang dikenal dengan salaf soleh, orang-orang terdahulu yang soleh secara individu dan soleh secara sosial. Generasi awal islam yang penuh dengan toleransi dan kerendahan hati.
Sekali lagi, syariat sudah tentu benar secara absolut, tapi pemahaman dan penjelasan seseorang terhadap syariat itu relatif: bisa benar, bisa salah.
Kalau kebenaran pandangan terhadap syariat itu relatif, lalu bagaimana kita mengukurnya?
Pesan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, “Ma ana alaihi wa ashabi.” Ikutlah apa yang aku dan sahabat-sahabatku lakukan.
Maka syariat Islam yang harus diikuti adalah yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Mari meneladani Nabi dan para sahabatnya, dalam aqidah mereka, dalam sikap mereka mempermudah pelaksanaan ajaran Islam, bukan mempersulit. Dalam sikap mereka yang selalu mempertimbangkan konteks waktu dan tempat dalam menentukan keputusan. Bukan yang apriori terhadap konteks tempat dan mengabaikan kondisi zaman dalam bersyariat.
Dengan sikap arif dan bijak inilah, wajah Islam yang diperkenalkan oleh Nabi menjadi ramah dan memperoleh banyak simpati. Menjadi Islam ramah, bukan Islam marah.
“Fa bima rahmatim minallahi linta lahum. Walau kunta fazhzhan ghalizhal qalbi, lanfadhdhu min haulik.”
Maka sebab rahmat dan kasih sayang Allah, enkau bersikap lembut kepada mereka. Jika engkau kasar dan keras hati, niscaya mereka akan berlari darimu. (Ali Imran ayat 159)
Satu waktu dalam masa jabatannya sebagai amirul mukminin, Sayyidina Umar Bin Khattab pernah meniadakan permberlakuan hudud atau potong tangan kepada seorang pencuri. Dengan alasan yang arif lagi bijak, pertimbangan yang relevan dan kontekstual, ia tidak memberlakukan hukum potong tangan seorang pencuri onta. Karena ia mencuri pada masa paceklik yang memang sedang melanda negeri.
Demikian Umar yang terkenal dengan ketegasannya, dengan kepribadiannya yang keras. Namun tetap arif dan bijak memahami konteks waktu paceklik, di tempat berupa negeri yang sedang paceklik.
Maka sama halnya di Indonesia. Kita pahami Syariat Islam sebagai semangat untuk membuat Islam luwes dan cocok serta relevan untuk saat ini, di tempat ini, di Negara Indonesia yang kita cintai. Berjalan seiring dengan kostitusi yang ada, tanpa harus dibenturkan antara keduanya.
Secara sederhana syariat pasti memiliki prinsip. Prinsip-prinsip Syariat dirumuskan menjadi lima tujuan dasar. Lima tujuan dasar inilah yang menjadi sebab syariat dibutuhkan. Syariat yang universal. Syariat yang tidak diskriminatif terhadap golongan selain islam. Lima tujuan dasar syariat itu dikenal dengan Kulliyatul khams: hifzhunnafs, hifzhul ‘aql, hifzhul mal, hifzhunnasl, dan hifzhuddin.

Pertama Hifzunnafs, memelihara jiwa setia orang tanpa terkecuali. Bukan Syariat Islam jika dengan gegabah mudah menghilangkan nyawa seseorang. Kedua, hifzul’aql, memelihara akal sehat. Bukan syariat islam jika menyebabkan fanatisme buta dan akal sehat serta nurani berhenti bekerja.

Ketiga, hifzul mal, memelihara harta kepemilikan setiap orang tanpa terkecuali. Bukan syariat Islam, jika menghalalkan penjarahan atas nama agama. Keempat, hifzhunnasl, memelihara garis keturunan. Bukan syariat Islam jika menghalalkan pergundikan hingga nasab seorang anak menjadi tidak jelas dan simpang siur.
Keempat, hifzuddin, memelihara agama. Bukan syariat  Islam jika memaksa penganut agama lain mengikuti agama kita. Karena tidak ada paksaan dalam agama.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan dalam bersikap arif dan bijak, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad saw., para sahabat dan generasi awal islam yang toleran.

Wallahu a’lam bishshawab.

Salafi Kini Dan Salaf Soleh Dulu

Salaf dalam bahasa Indonesia berarti orang terdahulu. Dalam kebudayaan Islam Salaf memiliki arti khusus.

Salaf merujuk pada generasi setelah tabi’in. Tabi’in adalah generasi setelah masa para sahabat.

Sedangkan Salafi hari ini mununjuk kepada suatu kelompok yang menjalankan Islam secara murni.

Murni dalam arti kembali kepada cara hidup dan beragama generasi Nabi, sahabat dan tabi’in beberapa abad lalu.

Salafi kini berpakaian dan berpenampilan lahiriah meniru generasi awal Islam ratusan tahun silam.

Generasi salaf, bukan salafi kini, menghiasi periode emas Islam pada sekitar abad ke 8 Masehi atau sekitar abad ke 2 Hijriah.

Ada banyak peninggalan yang bisa dibanggakan dari generasi salaf. Antara lain berupa karya ilmiah yang hingga kini masih bisa ditelaah.

Dalam bidang Ilmu Kalam pemikiran Washil Bin ‘Atha merupakan cikal-bakal Islam rasionalis di abad modern.

Faham Jabariah, Qadariah, Murjiah dan faham minoritas lainnya dibiasakan_bukan dibinasakan_dikaji dan dihormati dalam perbedaan.

Di bidang syariat fase salaf melahirkan 4 imam mujtahid yang kepadanya hukum-hukum fiqih dinisbatkan.

Empat Imam Mazhab besar dalam fiqih yang hingga kini pendapatnya masih diikuti para pengikutnya: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali.

Di bidang hadits, muncul Imam besar hadits, Al Bukhari, Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah.

Di bidang Hadits dan tafsir muncul ulama yang toleran terhadap perbedaan dalam penggunaan metode dan hasil pemikiran.
&&
Selain peninggalan berupa buku atau pemikiran, demikian generasi salaf juga meninggalkan banyak teladan dalam akhlak.

Tidak heran jika Kanjeng Nabi Muhammad menyebut generasi salaf termasuk satu dari tiga generasi terbaik.

Pada periode salaf telah muncul banyak perbedaan pendapat dalam Islam, di bidang syariat, tasawuf, filsafat bahkan teologi atau ilmu ketuhanan.

periode Salaf ini sarat dengan perbedaan pandangan. Akibatnya semakin memperkaya khazanah ilmu.

Khazanah ilmu yang nantinya membuat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia.

Khazanah ilmu yang pada gilirannya menyinari Eropa dan belahan dunia lain yang banyak belajar dari Islam.

Perbedaan pandangan dan perdebatan pendapat itu boleh dalam islam. Bahkan bisa membuat Islam semakin sempurna.

Suatu aliran atau mazhab punya kekurangan dan kekurangan itu dilengkapi oleh aliran atau mazhab lain.

Inilah kondisi yang dihadapi oleh generasi Salaf: hari-hari yang kaya akan perbedaan pandangan.

Apakah perbedaan pandangan itu melemahkan Islam dan membuat generasi salaf berpecah-belah?

Jawabannya, tidak! Sama sekali tidak! Karena generasi salaf yakin bahwa perbedaan pendapat dalam  umat adalah rahmat.

Akhlak luhur generasi salaf mengalahkan kebanggaannya sebagai pelaksana ajaran Nabi dan para sahabat.

Bukan malah bangga merasa paling memurnikan ajaran dan paling berhati-hati lalu mengalahkan akhlak.

Lagipula melaksanakan ajaran Nabi seharusnya secara utuh, bukan hanya lahiriah saja, cara berpakaian saja misalnya.

Akhlak Nabi yang pertama. Kedua, laksanakan semangat Nabi dalam menghargai tradisi di mana tempat beliau berdakwah, pada masa beliau berdakwah.

Kanjeng Nabi sangat menghargai konteks, tempat dan waktu beliau berdakwah.

Hingga penghargaan terhadap tradisi setempat menjadi akhlak Nabi dalam sikap berislam secara lokal, bukan global.

Dengan lokalitas Islam menjadi fleksibel dan kaya. Islam menjadi agama yang cocok dengan segala tempat dan waktu.

Dengan lokalitas Islam membuat perbedaan justru saling melengkapi. Saling menyempurnakan.

Ada kata-kata Imam Syafi’i yang sangat bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan.

“Mazhab kami benar dan masih mengandung kesalahan. Mazhab di luar kami salah dan masih mengandung kebenaran.”

Karenanya amat pantas mereka disebut sebagai salaf soleh. Bukan sekedar salafi-salafi biasa yang terkesan aneh.

Karena soleh berarti berlaku layak sebagai hamba sesuai zaman dan tempat di mana ia hidup.

Kalau para salafi di abad ini sangat berhati-hati dalam meneliti pemurnian ajaran, hati-hatilah dalam segala hal.

Termasuk juga hati-hati dalam menilai perbedaan dan orang yang punya pandangan agama yang berbeda dengan mereka.

Sehingga sifat ekslusif tidak lagi menjadi ciri dari salafi. Sikap inklusif jadi kehangatan mereka dalam menyikapi perbedaan.

Mari membangun cara beragama yang ramah dan toleran. Mari menciptakan Islam yang menjadi kasih sayang bagi semua golongan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Bukan Sekedar Bersih (Malam sabtu keempat)

Layak. Itu kata kunci sebelum kita menghadap orang yang kita hormati. Tidak selayaknya kita bertemu orang yang kita cintai dan belum tentu ia mencintai kita dengan persiapan sembarangan. Paling tidak, kita berdandan semampunya untuk menemuinya.

Demikian dalam ibadah. Pertemuan kita dengan Tuhan juga perlu dipersiapkan. Ada standar minimal untuk itu. Bersih dan berpakaian rapih batas paling rendahnya.

Bersuci atau thaharah itu pintu ibadah. Bersuci bukan cuma sekedar mencuci. Bersuci menghilangkan kotoran pada tubuh, tempat dan pakaian. Bersuci juga menghilangkan hadats, yakni kejadian manusiawi yang mengurangi kelayakan kita untuk solat, seperti hajat dan menyentuh lawan jenis dewasa bukan mahram tanpa penghalang.

Itulah dua aspek thaharah dalam Islam; bersuci dari najis dan dari hadats.

Maka ditetapkanlah tata-cara mencuci najis dan mengangkat hadats. Dirumuskanlah mana yang najis dan mana yang dianggap hadats. Berlakulah menbasuh dan wudhu sebagai syarat melaksanakan ibadah seperti solat.

Bersuci atau thaharah ada empat tingkatan. Pertama, membersihkan tubuh dari najis dan hadats sebagaimana telah disebut di atas. Ini bersuci para pemula. Kedua, membersihkan anggota tubuh dari segala kemaksiatan. Menjaga mata, telinga, kaki, tangan dan segenap anggota badan dari perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini bersucinya para salikin.

Ketiga, membersihkan hati dari segala penyakit hati, seperti ujub, riya’, sombong, marah dan lainnya. Keempat, membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah. Ini yang paling tinggi, merupakan bersucinya para Nabi dan Shiddiqqin.

Keempat derajat thaharah itu harus dilatih terus menerus. Selain untuk mencapai kesempurnaan ibadah, juga untuk menghindarkan kita dari bersuci yang cuma sampai kulit belaka. Dari menyibukkan diri dengan thaharah yang zohir, berdandan dan berpakaian lahiriah tapi melupakan yang batiniah yang lebih penting.

Menghindarkan dari bergaya islami, namun hati penuh rasa benci dan kesombongan: merasa paling islami sambil menuduh orang lain dengan tuduhan keji. Padahal mereka sama-sama muslim.

Sayyidina Umar pernah berwudhu dari wadah milik orang kafir. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kebersihan hati sangat penting. Jangan sampai bersih dan bergaya islami tapi hati penuh rasa benci kepada orang lain, meskipun terhadap non muslim.

Wallahu a’lam bishshawab.

Memancing Tuhan?

Apa yang kita lakukan kadangkala harus dirahasiakan, cuma kita yang tau, kadangkala boleh diperlihatkan.

Solat lima waktu ada yang bacaannya dimunculkan atau jahar dan ada yang bacaannya dipelankan atau sirr.

Begitu juga sedekah. Satu waktu boleh disembunyikan, jangan sampai tangan kiri tau apa yang diberikan tangan kanan.

Satu waktu sedekah boleh ditampakkan, untuk mencontohkan orang agar ikut bersedekah juga, misalnya.

Kalau ada kekhawatiran riya’ pamer dalam melakukan ibadah yang ditampakkan tadi justru harus dilawan.

Beberapa ibadah tetap Allah terima meskipun seolah pamer. Seolah pamer lho ya, bukan yang jelas-jelas pamer.

Yang jelas-jelas pamer yang akan diterima, oleh orang yang menonton pameran itu. Sedang yang seolah pamer, karena dituntut untuk menampakkan, insyaallah diterima oleh Allah.

Solat dan sedekah satu waktu dituntut untuk ‘seolah pamer’. Dan itu boleh.

Yang sedang ngetrend sekarang ini bukan sedekah pamer, tapi sedekah ekstrim. Bersedekah dalam jumlah melampaui batas, tanpa menghiraukan akibat logisnya.

Misal seorang penjual pecel lele memiliki sejumlah uang dalam usahanya.

Sepertiga untuk operasional, sepertiga untuk mengembangkan cabang warung lain, sepertiga untuk cadangan tak terduga.

Pedagang pecel lele ini berdagang seperti biasa dengan biaya operasional dari sepertiga kekayaannya.

Di sisi lain, ia juga bersedekah dengan dua per tiga kekayaannya yang seharusnya untuk mengembangkan cabang dan dana cadangan.

Bersedekahlah ia dengan harapan dua per tiga harta yang ia sedekahkan kembali dengan jumlah berlipat ganda.

Seminggu, sebulan, setahun, keuntungan sedekah yang ia harapkan tidak datang juga.

Sementara usaha pecel lele yang sedang berjalan tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Sementara teman-teman yang menjalani usaha dengan hitungan logis dan sedekah ‘biasa’ saja semakin maju.

Bahkan membuka banyak cabang di seantero kota dengan pembeli yang terus ramai.

Bagaimana dengan pengusaha yang bersedekah ekstrim tadi? Usahanya jalan di tempat. Umpan sedekah yang ia lemparkan tidak membuahkan apa-apa.

Ya, umpan! Ia seolah sedang memancing Kekayaan Tuhan dengan umpan sedekahnya.

Ini jenis sedekah yang menurut saya tidak boleh diajarkan.

Dari dua jenis sedekah yang boleh diajarkan cuma ada sedekah sirr (dirahasiakan) dan ‘alaniyah (diumumkan).

Sedekah ekstrim tanpa memperhitungkan akibat logis dengan kesan memancing pemberian Tuhan tidak pernah diajarkan.

Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq memang pernah menyumbangkan seluruh kekayaannya untuk ekspedisi Tabuk. Tidak ada yang seperti beliau.

Tapi ini beliau lakukan untuk tujuan mencontohkan orang banyak agar ikut bersedekah. Sama sekali bukan memancing kemurahan Allah.

Sampai akhir hayatnya beliau bahagia dalam kesederhanaan, bukan nelangsa sebab pancingan sedekah tidak membuahkan apa-apa.

Betul bahwa menanam satu biji akan menumbuhkan tujuh tangkai. Setiap tangkai membuahkan seratus biji.

Betul bahwa Allah mampu melipatgandakan lebih dari itu untuk orang yang Dia kehendaki.

Betul bahwa sedekah itu menghindarkan bencana. Betul semua yang termaktub dalam teks agama.

Dan logika tetap harus digunakan untuk menolak sedekah ekstrim yang cuma memancing Gusti Allah menurunkan balasannya.

Keikhlasan juga jadi pondasi utama dalam segala hal, termasuk sedekah ini. Mari bersikap logis dan ikhlas dalam bersedekah.

Semoga kita tidak termasuk orang yang memancing kekayaan Tuhan tanpa keikhlasan.

Semoga kita tidak terpancing oleh pemancing sedekah ekstrim tanpa perhitungan matang dan ketulusan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Memanggil Tuhan atau Sponsor dan Iklan

Satu hari saya bertemu dengan seorang kawan di satu kajian. Dia menceritakan obrolannya beberapa waktu lalu dengan umat Budha.

Di Taman Mini Indonesia Indah, penganut Budha ini bertanya kepada teman saya, “Apa menurut umat muslim Tuhan itu jauh?” Tidak, jawab teman saya. “Lalu mengapa dalam berdoa umat muslim sering memakai pengeras suara?” Teman saya bilang, itu cuma sebagian muslim saja, tidak semua. Saya pribadi tidak setuju dengan pengeras suara yang mengesankan kementang-mentangan mayoritas. Ojo dumeh!

Kalaupun untuk memanggil solat, cukup satu kampung satu pengeras suara. Bacaan solat tidak usah dikeraskan keluar masjid, apalagi doa dan pengajian, tabligh akbar dan semacamnya. Kalaupun butuh pengeras suara, cukup suara untuk menjangkau jamaah pengajian di majlis itu saja. Karena kita hidup bersama saudara kita yang mungkin punya kesibukan lain, atau butuh ketenangan dari suara bising. Apalagi berdoa sambil menangis-nangis di depan kamera!

Seusai dari ekspedisi Khaibar, Kanjeng Nabi melewati lembah dan perbukitan. Bersama pasukan menikmati perjalanan pulang. Tiba-tiba, sebagian orang berteriak-teriak megucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan suara keras. Nabi menegur mereka, “Untuk diri kalian sendiri! Kalian bukan sedang memanggil Orang Tuli yang jauh. Sesungguhnya yang kalian panggil adalah Yang Maha mendengar lagi maha dekat.”

Memanggil Allah, berdoa dalam bahasa arabnya, punya beberapa tata-krama yang harus dipatuhi. Pertama,cuma kepada Allah. Karena yang dipanggil adalah Allah semata, maka adab berikutnya harus terpenuhi: merendah, bersuara pelan, tidak berlebihan, takut dan penuh harap.

Merendahlah. Bagaimana mungkin kita butuh kepada Allah dan minta kepada-Nya dengan sikap tinggi hati, ujub dan merasa paling dekat dengan-Nya. Bersuara pelan. Sebab Allah lebih dekat dari nadi kita, Maha mendengar segala yang samar. Berdoalah dengan tenang dan penuh keyakinan, bukan dengan berteriak skeptis terhadap kemahamendengaran Allah.

Jangan berlebihan dan mendikte Allah. Seseorang berdoa kepada Allah agar diberikan bidadari surga yang menyambutnya datang dari sisi kanan surga. Menuangkan air minum ke cawan dan memandikannya. Memohon perlindungan kepada Allah dari siksa hidup, tetangga yang buruk, penghasilan yang minim, keadaan kekurangan jajan anak-anak dan kebangkrutan usaha kecilnya: jual pulsa dan es lilin. Ini doa yang berlebihan. Mintalah kebaikan dunia akhirat. Mohonlah perlindungan dari segala hal buruk. Cukup itu. Tidak berlebihan.

Takutlah kepada Allah kalau ia membalas dosamu dan menolak amal-ibadahmu. Penuhkan harapmu cuma kepada Allah. Hilangkan sikap pesimis terhadap pemberiannya dan karuniaNya yang maha banyak.

Dan lebih dari segala adab di atas, berdoalah dari satu titik keberangkatan: taubat dan hati yang bersih. Wallahu a’lam bishshawab.

Dia Yang Maha (Malam Sabtu kedua)

Allah Tuhan yang Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah Terdahulu, tanpa awal. Dia terus ada, tanpa akhir, abadi tanpa ujung. Dia langgeng, tanpa terputus. Dia senantiasa bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan yang tidak akan pernah berkurang dalam keabadian, tidak akan rusak dalam batas waktu.

Bahkan Dia Yang Pertama dan Terakhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dia tidak berjisim, tidak sama dengan makhluk apapun dan makhluk tidak ada yang sama dengan-Nya.

Allah tidak dilingkupi oleh arah apapun, tidak dilingkupi oleh bumi dan langit. Allah bersinggasana di atas Arsy dengan cara yang Allah sendiri katakan dan dengan pengertian yang Dia kehendaki.

Allah di atas Arsy dan di atas langit.

Allah melampaui segala sesuatu, mengungguli segala sesuatu dengan keunggulan yang tidak menjadikan-Nya lebih dekat kepada Arsy dan langit, dengan keunggulan yang tidak membuat-Nya semakin jauh dari bumi.

Dia Maha Tinggi dari Arsy dan langit, sebagaimana Dia Maha Tinggi dari bumi dan benda langit lainnya. Bersamaan dengan itu, Allah juga Maha dekat dengan segala yang ada. Dan Dia lebih dekat kepada seorang hamba daripada urat nadi si hamba. Kedekatan-Nya tidak sama dengan kedekatan benda-benda, sebagaimana Dzatnya tidak sama dengan Dzat benda-benda.

Allah tidak menempati segala sesuatu dan segala sesuatu tidak menempati-Nya. Maha Tinggi Allah yang tidak diliputi ruang. Maha Suci Allah yang tidak dibatasi waktu. Dia telah ada sebelum Dia menciptakan ruang dan waktu. Dia yang sekarang tetap sebagaimana Dia yang telah ada sebelumnya.

Allah dimaklumkan ada-Nya oleh akal, bisa dipandang dengan mata kepala nanti di daerah keabadian akhirat, sebagai nikmat dari-Nya dan sifat kemahalembutannya terhadap orang-orang baik, sebagai nikmat paripurna para penghuni surga dengan memandang wajah-Nya yang Mulia.

Allah Hidup, Mahakuasa, Mahamemaksa. Tidak mungkin menyentuh-Nya kekurangan dan kelemahan. Tidak juga menyentuh-Nya sifat lupa dan tidur. Tidak juga menyerang-Nya kerusakan, tidak juga mati.

Allah sendiri menciptakan dan mewujudkan, sendiri dalam mengadakan dan menitahkan. Allah mengetahui seluruh pengetahuan, meliputi segala yang berjalan di bumi hingga atas langit. Tidaklah luput dari pengetahuan-Nya sebutir partikel pun di bumi maupun di langit. Bahkan Dia mengetahui langkah halus semut kecil hitam di atas batu hitam legam di gelap-pekatnya malam.

Allah mengetahui gerak debu-debu di udara. Dia mengetahui rahasia dan yang paling tersembunyi. Dia melihat gejolak hati, gerak benak dan rahasia yang tersembunyi dengan pengetahuan sejak dulu lagi kekal, pengetahuan yang selalui bersifat demikian.

Dia mengurus setiap benda, mengurus setiap makhluk. Maka, dalam alam fisik dan non fisik, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali sebab ketetapan, kepastian, kebijaksanaan dan kehendak-Nya. Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi. Apa yang tidak Dia kehendaki, tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak perintah-Nya, tidak ada yang membantah ketetapan-Nya.

Sesungguhnya Allah Mahamelihat, Mahamendengar. Tidak ada yang luput dari pendengaran-Nya bunyi apapun, meskipun amat tersembunyi. Tidak luput dari penglihatan-Nya objek apapun, meskipun amat sangat kecil. Tidak akan menutupi pendengaran-Nya apa yang dinamakan jauh. Tidak akan menghalangi pandangan-Nya apa yang dinamakan gelap. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak menyerupai pendengaran da penglihatan makhluk, sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai Dzatnya makhluk.

Allah Ta’ala berbicara, memerintah, melarang, menjanjikan, mengancam. Al Quran, Taurat, Injil dan Zabur adalah kitab-kitab-Nya yang turun kepada utusan-utusan-Nya. Allah berbicara kepada Musa dengan perkataan yang merupakan sifat Dzat Allah, perkataan itu bukan satu dari makhluk-makhluk-Nya. Al Quran juga perkataan Allah, bukan makhluk-Nya. Maka Al Quran abadi, bukan sifat makhluk yang bisa rusak.

Tidak ada wujud apapun kecuali Dia yang membuatnya dengan perbuatan-Nya, Dia berlaku adil dengan cara yang paling sempurna. Dia bijaksana dalam perbuatan-Nya, adil dalam putusan-Nya.

Setiap manusia, jin, malaikat, langit, bumi, hewan, tumbuhan, benda mati, yang kasat mata dan yang tak kasat mata adalah sesuatu yang baru yang Dia ciptakan sungguh-sungguh dari ketiadaan dengan kekuasaan-Nya, Dia munculkan sebenar-benarnya semua itu dari yang bukan apa-apa. Sebab Cuma Allah yang ada sendiri sejak awal, tidak ada sesuatu bersama-Nya. Lalu Allah membuat makhluk untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dan untuk menyatakan kehendak-Nya yang terdahulu, untuk menyatakan kebenaran kata-kata-Nya di awal dari segalanya. Allah menciptakan semua itu bukan karena Allah membutuhkan mereka. Dia menciptakan itu semua sebagai kebolehan-Nya dalam mencipta, mewujudkan, dan menentukan, bukan sebagai kewajiban-Nya. Allah membagikan nikmat dan segala kebaikan bukan sebab keharusan. Baginya segala kelebihan, segala nikmat dan pemberian.

Allah membalas kebaikan orang-orang beriman yang taat karena kedermawanan-Nya dan janji-Nya, bukan karena kewajiban  yang harus Dia laksanakan. Sebab tidak ada kewajiban apapun yang harus Allah lakukan untuk siapapun, tidak ada kezaliman dari Allah dan tidak ada hak siapapun yang harus ditunaikan oleh Allah.