Job Description 

Sesaat setelah menikahi putri Rasulullah, Sayyidina Ali bermaksud membagi tugas antara dia dan istri tercintanya. Dia menyampaikan maksudnya itu kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah membagi tugas untuk masing-masing pengantin baru itu: Pekerjaan di dalam rumah dikerjakan oleh Siti (singkatan dari Sayyidatina, artinya junjungan kita) Fatimah dan yang di luar rumah dikerjakan oleh Sayyidina Ali. Dengan ketaatan, Sayyidina Ali menerima saran Rasulullah tersebut. Demikian juga Fatimah menerima dengan ketundukan. 
Sejak saat itu kedua ahlu bait Rasulillah menjalankan tugas sebagaimana telah dideskripsikan. Namun di dalam rumah, Sayyidina Ali tetap membantu pekerjaan-pekerjaan Siti Fatimah, seperti mencuci baju, menyiangi gandum, membersihkan rumah dan banyak lagi. Bahkan Rasulullah ikut mengerjakan pekerjaan putri kesayangannya itu saat ia berkunjung ke rumahnya. 
Waktu berlalu. Rumah tangga bahagia itu sudah dikaruniai anak-anak. Pekerjaan-pekerjaan Siti Fatimah semakin berat. Tampak kelelahan di hari-hari putri Rasulullah itu. Hingga suatu hari Sayyidina Ali menyarankan agar Siti Fatimah meminta seorang pembantu untuk meringankan pekerjaan-pekerjaannya sehingga ia tidak terlalu letih.
Siti Fatimah menyetujui saran suaminya. Ia datang ke rumah Rasulullah namun ada banyak orang di sana. Siti Fatimah malu mengatakan permintaannya itu. 
Kesempatan kedua Siti Fatimah datang. Namun masih malu mengatakan permintaannya itu hingga Sayyidina Ali yang kemudian mengutarakannya. 
“Saya menyarankan agar Fatimah meminta seorang pembantu yang bisa mengabdi di rumah kami untuk meringankan pekerjaan-pekerjaannya hingga ia tidak terlalu letih,” kata Sayyidina Ali. 
Rasulullah saw pemimpin yang mulia. Beliau tidak mengizinkan ada satu orang pun yang lebih fakir ketimbang keluarganya dan anak-anaknya. Apalagi kota Madinah saat itu adalah kota yang sangat miskin. Maka hal yang tidak mungkin untuk mencarikan pembantu bagi Siti Fatimah. 
Maka Rasulullah mengajarkan satu resep. 
“Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang lebih dari sekedar pembantu?”, tanya beliau saw. 
“Apa itu, ya Rasulullah?”
“Ketika kalian hendak beristirahat tidur malam, bacalah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali,” sabda Rasulullah. 
“Aku ridha dengan apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya,” sambut Siti Fatimah mantap. 
Semoga kita bisa meneladani kisah ini.
(Qashas Al-Abrar)

​Menjawab Pertanyaan dan Mengatakan Kebenaran

Beberapa kesempatan kita melihat seseorang yang selalu bisa menjawab pertanyaan apapun yang diajukan kepadanya. Sekali waktu ia mencoba menjawab dengan segala pengetahuan yang ia miliki, meyakinkan si penanya agar meyakini bahwa ia bisa dan mampu menjawab. Ia mencoba mengatakan kebenaran dengan segala ilmunya dan yang mendengar justru tambah bingung.

 
Dalam kondisi ini, orang yang selalu menjawab dan selalu berambisi untuk mengatakan kebenaran boleh jadi memiliki ketidaktahuan dalam tiga hal.
Pertama, skala prioritas penanya dan jawabannya. Tidak setiap penanya berhak untuk mendapatkan jawaban. Tidak semua pengetahuan harus disebutkan kepada semua orang. Tidak semua pengalaman tentang kebenaran hakiki bisa diungkapkan sempurna sesuai dengan yang dialami. Justru orang yang tau tidak menjawab setiap pertanyaan.
“Sampeyan ini tidak tau atau sengaja menyembunyikan ilmu? Apa tidak takut cambuk api neraka bagi orang berilmu yang menyembunyikan ilmunya?!”, hardik si penanya.
“Letakkan cambuk neraka di depanku. Nanti kalau ada orang bertanya tentang hal yang kau tanyakan tadi dan ia memang berhak mendapat jawaban, tapi tidak aku jawab, maka cambuk aku!” Jawab orang tau yang benar-benar tau kalau ia tau.
Kata Sayyidina Ali, “Ceritakan manusia tentang apa-apa yang mereka kenal! Apa kalian ingin mendustakan Allah dan Utusan-Nya dengan mengumbar cerita?!”
Kebenaran-kebenaran seringkali ternoda oleh sekelompok orang yang tidak tau kalau ia tidak tau. Maka jawaban yang diberikan haruslah sesuai kadar orang yang bertanya, bukan kadar pertanyaan.

 
Kedua, ada pengetahuan yang cacat dan sia-sia jika diungkapkan hanya dalam hubungan tanya-jawab. Ada banyak pengalaman yang tentang kebenaran hakiki yang saat diungkapkan malah mengurangi nilai kebenaran itu. Bahkan yang didapat oleh pendengar atau penanya justru bertentangan dengan apa yang dimaksud. Maka tidak heran sebagian orang berilmu dan para arif dikufurkan, dicap bid’ah dan fasik. Padahal sejatinya mereka tidak kufur, tidak melakukan bid’ah dan tidak melakukan kefasikan.
Karena sebagian ilmu serupa rahasia tersembunyi yang tidak bisa diketahui kecuali oleh ulama yang mengenal Allah. Ketika mereka mengungkapkan ilmu itu, orang umum mengingkarinya.

 
Ketiga, pertimbangan waktu dan tempat yang berbeda-beda. Seringkali suatu jawaban layak diungkapkan di waktu tertentu, namun tidak layak di waktu lain. Kerap kali suatu pengetahuan pantas dibicarakan di sebuah forum dan tidak pantas di forum yang lain. Banyak pengalaman tentang kebenaran hakiki boleh dipaparkan di suatu waktu, dan terlarang di waktu lainnya, boleh untuk sebagian orang dan tidak untuk lainnya.

 

Ketidaktahuan orang yang selalu tampak pandai menjawab lantaran kealpaannya terhadap keterkaitan pertimbangan-pertimbangan di atas. Kalau memaksakan diri untuk menjawab hanya untuk dihormati dan dimuliakan khalayak, cuma karena haus popularitas, ia telah terjebak kepada dunia. Terjebak kepada dunia adalah satu ketidaktahuan lagi, satu kebodohan lagi, yakni ketidaktahuan tentang agungnya akhirat ketimbang dunia.
فلكل مقام مقال، ولكل عمل رجال.
Bagi setiap jenjang, ada perkataan tertentu. Bagi setiap pekerjaan, ada tokoh tertentu yang mengerjakannya.
Semoga Allah membimbing kita.

(Syaikh Zaruq – Syarah Al-Hikam)

​Ajakan Berpikir dalam Islam. 

Secara umum, ajakan berpikir dengan berbagai redaksi disebutkan oleh Al-Quran dalam banyak tempat. Terkadang menggunakan ‘afala ta’qilun’ (tidakkah kalian menggunakan akal), ‘afala yatadabbarun’ (tidakkah mereka merenungkan), dalam bentuk orang ketiga jamak ataupun orang kedua jamak. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendorong seorang muslim untuk berpikir. 

Objek berpikir dalam perintah ayat-ayat tidak disebutkan. Artinya, apapun bisa jadi objek pemikiran seorang muslim. Mulai dari ayat qauliyyah, ayat kauniyyah atau alam semesta yang mencakup diri sendiri, atau bahkah sifat-sifat Tuhan. 
Keberanian untuk berpikir menghindarkan seseorang untuk terjebak dalam dogmatisme. 
Barangkali sebagian kita merasa tabu untuk memikirkan sebuah ayat, apalagi mempertanyakan dan memperdebatkan. Namun ketahuilah, yang kita pikirkan hingga pertanyakan adalah pemahaman terhadap ayat tersebut. Perlu dibedakan antara mempertanyakan ayat dengan mempertanyakan pemahaman seseorang atau pemahaman sekelompok orang terhadap ayat tersebut. 
Bagaimana kita memahami arti Al-Kursi pada ayat Kursi, lalu pemahaman yang kita dapat boleh diperdebatkan. Karena kita sedang memperdebatkan dan menguji kesahihan pemahaman kita. Bukan memperdebatkan atau menistakan Al-Kursi dalam ayat tersebut. 
Keberanian mempertanyakan pemahaman kita atau orang lain terhadap suatu teks agama akan membuahkan sebuah sintesa yang tentunya lebih baik. Ingat, dialektika yang berisi tesis, antitesis, dan sintesis adalah menghimpun segala sesuatu yang paling mendekati kebenaran dalam tahap-tahap itu. 
Dari sini, akan tampak korelasi antara para ilmuan atau saintist muslim dengan radikalisme, tatkala ia enggan mempertanyakan pemahamannya terhadap teks agama. Jika seorang ilmuwan berani menguji hipotesanya dalam sains atau ilmu sosial, tapi takut mempertanyakan pemahamannya tentang suatu teks, maka yang terjadi adalah dogmatisme. Sikap dogmatis melahirkan sikap mau menang sendiri. Dari sinilah benih radikalisme tumbuh subur di kampus-kampus yang secara ilmiah ia unggul dan progresif, namun secara pemahaman agama — karena malas berpikir  atau entah karena motif lain — primitif dan jumud. 
Karenanya, logika dalam agama adalah sesuatu yang amat diperlukan. Logika agama bukan menelanjangi teks-teks agama, tetapi menelanjangi pemahaman kita terhadap teks-teks agama yang pernah kita peroleh, mengujinya dan meninggalkan pemahaman itu jika memang tidak sesuai dengan akal sehat. 
Logika dan berpikir seperti manual book dan perangkatnya. Setiap kita bisa menggunakan perangkat berpikir kita. Yang bisa berpikir sesuai dengan logika atau manual book, itulah yang berpikir sehat. Yang tidak bisa, kesalahan berpikir ini antara lain disebabkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang seringkali sudah sekian lama dianggap sebagai kebenaran dan dibiarkan menjadi keyakinan tanpa validasi logika. 
Akhirnya, manusia dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, mereka yang enggan berpikir. Kedua, mereka yang berpikir namun tidak logis: melahap semua informasi dan menyebarkannya tanpa mengujinya terlebih dahulu. Ketiga, mereka yang berpikir logis dan tidak sungkan-sungkab menguji setiap informasi dan pemahaman yang mereka dapatkan. Jika sesuai dengan logika, maka ia pertahankan. Jika tidak, maka ia buang jauh-jauh demi kesempurnaan jiwanya. 

Semoga kita termasuk golongan yang terbaik.

Pancasila dan Ayat Suci

Dalam Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin, muktamar harus menjawab sebuah pertanyaan: wajibkah bagi kaum muslimin mempertahankan kawasan yang waktu itu bernama Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang diperintah oleh orangorang non-muslim (para kolonialis Belanda)? Jawab Muktamar saat itu; wajib. Karena di kawasan tersebut, yang di kemudian hari bernama Indonesia, ajaran Islam dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga bangsa secara bebas, dan dahulu ada kerajaan-kerajaan Islam di kawasan itu. Dengan demikian, tidak harus dibuat sistem Islam, dan dihargai perbedaan cara dan pendapat di antara kaum muslimin di kawasan tersebut.
Dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya sebuah sistem Islami, ini berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam. Ini penting untuk diingat, karena sampai sekarang pun masih ada pihakpihak yang ingin memasukkan Piagam Jakarta ke dalam UUD (Undang-Undang Dasar) kita. Dengan klaim mendirikan negara untuk kepentingan Islam jelas bertentangan dengan demokrasi. Karena paham itu berintikan kedaulatan hukum di satu pihak dan perlakuan sama pada semua warga negara di hadapan Undang-Undang (UU) di pihak lain. (Gus Dur 2011)
Kesepakatan elemen bangsa dari agama, suku, dan budaya yang berbeda kala itu sudah bulat untuk menjadikan wilayah yang juga dikenal dengan nama Nusantara ini sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para pendiri negara ini yang tentunya ulama juga termasuk di dalamnya memberikan kepercayaan kepada Sukarno-Hatta untuk memimpin bangsa dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai sumber hukum. Inilah yang dalam Islam disebut konsensus atau ‘ahd. 
Dalam banyak tempat Al-Quran menyebutkan kata ‘ahd dengan kewajiban untuk menjaganya. Konsensus harus tetap dipegang, sekalipun antara muslim dan nonmuslim, sebagaimana yang terjadi pada proses perjalanan bangsa ini. 
Kecaman Al-Quran sangat keras untuk mereka yang merusak konsensus. 
وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ ۚ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
-Sura At-Tawbah, Ayah 3
إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
-Sura At-Tawbah, Ayah 4
Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan kewajiban kita untuk memegang teguh konsensus. 
Inilah yang kiranya dijadikan landasan, bahkan jalan hidup, oleh para ulama NU dan Muhammadiah. Maka tidak heran kedua organisasi Islam itu paling konsisten dalam membela NKRI dan Pancasila serta segenap konstitusi di negara ini. 
Dengan pandangan ini, maka tidak perlu ada upaya membenturkan antara negara dan agama, antara konstitusi dan ayat suci. Slogan ‘ayat suci di atas ayat konstitusi’ nampaknya muncul dari ketidakpahaman terhadap sejarah dan ajaran ulama yang mendirikan negeri ini. Apa yang kita sepakati sebagai konstitusi adalah produk ‘ahd, hasil konsensus yang wajib, fardhu ‘ain atas kita untuk menjaganya. Segala upaya untuk menentang Pancasila dan NKRI adalah bentuk pengingkaran kepada ulama pendiri negeri ini, atau bahkan perlawanan terhadap ayat ‘ahd yang banyak disebut dalam Al-Quran. 
Maka, peringatan hari lahir Pancasila jadi momentum untuk kita dalam menghayati konsep ‘ahd, mengkaji kembali pentingnya memegang teguh konsensus atau kesepakatan antara kita dan segenap warga negara Indonesia. Untuk lebih menjunjung tinggi kebhinekaan sekaligus meluhurkan ajaran Islam yang sejatinya amat menghargai kebhinekaan dan toleransi. NKRI, harga mati!

Fi Maidah al-Tha’am

Makan Bersama 
Dalam sebuah perjalanan, Kanjeng Nabi dan para sahabatnya beristirahat. Mereka menurunkan beban-beban dari kendaraan mereka. Dan mereka sepakat menyembelih seekor kambing untuk makan bersama.
“Aku siap menyembelihnya,” kata seorang sahabat. 
“Aku yang menguliti dan mencacaknya,” sambut sahabat lain. 
“Aku siap memasaknya,” sambung sahabat ketiga. 
Demikian seterusnya, para sahabat menyatakan partisipasinya dalam persiapan makan itu. 
Kemudian giliran Kanjeng Nabi, “Sedangkan aku, aku siap mengumpulkan kayu,” ucap beliau. 
Serentak beberapa sahabat membalas, “Biar kami saja yang mengumpulkan kayu, jangan Engkau, Wahai Rasulullah.”
“Aku mengerti. Namun aku tidak suka diistimewakan atas kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai seseorang yang memandang dirinya istimewa di antara segenap kawan-kawannya,” dawuh Kanjeng Nabi.
Kemudian beliau berdiri, mulai mengumpulkan kayu dan membawanya sendiri dengan tangan mulianya.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan meneladani Kanjeng Nabi. 
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. 
(Qashash al-Abrar)

Untuk Sang Murid 

Nahnu ila qalil min al-adab afqaru minna ila katsrah min al-‘ilm.

Satu 

Kita lebih butuh kepada adab meskipun sedikit ketimbang kepada banyaknya ilmu. 
Karena, ilmu sedikit dengan adab akan menghantarkan kita kepada Allah. Ilmu banyak tanpa adab justru akan menjauhkan kita dari-Nya. 
Segudang ilmu bisa kita peroleh dengan belajar 10 hingga 20 tahun. Namun adab yang paripurna diperoleh hanya dengan membiasakannya sepanjang hidup kita. 
Ilmu bisa kita dapat dengan mendengar, membaca, googling, atau menjadi aktivis sosmed. Tapi adab hanya bisa kita peroleh melalui pendidikan guru yang mursyid.
Guru mursyid lah yang mendidik kita untuk mengeluarkan akhlak buruk dari dalam diri kita, menggantikannya dengan akhlak yang baik. Beliau mendidik kita laksana petani menyingkirkan duri, hama dan benalu dari tanamannya. Kitalah tanamannya. Agar tumbuh sempurna batang hingga buahnya. 
Ini pula peran Kanjeng Nabi kepada para sahabatnya kala itu. Setelah beliau wafat kedudukannya diwariskan kepada para guru mursyid yang membimbing kita menuju hadirat Allah. 
Guru mursyid menjadi pengganti Kanjeng Nabi. Maka guru mursyid adalah seorang yang berilmu. Namun tidak semua yang berilmu layak menduduki posisi ini. 
Ada sebagian ciri-ciri guru mursyid yang secara umum bisa diterapkan agar tidak semua orang mengaku sebagai guru mursyid. 
Para guru mursyid adalah mereka yang berpaling dari kecintaan terhadap dunia dan berpaling dari kecintaan terhadap penghormatan. 
Beliau pasti mengikuti seseorang guru mursyid sebelumnya yang tersambung terus kepada Kanjeng Nabi. 
Beliau selalu berlatih atau riyadhah dengan sedikit makan dan minum, sedikit bicara dan sedikit tidur. Beliau banyak shalat, sedekah dan puasanya. 
Saat kita mengikutinya, akan nampak jelas laku lampahnya berupa kesabaran, shalat, syukur, tawakkal, yaqin, qana’ah, ketenangan jiwa, kelembutan, tawadhu’, ilmu, kejujuran, sikap malu, menepati janji, kewibawaan, ketentraman, kehati-hatian dan banyak lagi. 
Maka guru mursyid adalah cahaya dari cahaya-cahaya Kanjeng Nabi yang kita patut mengikutinya. 
Sosok guru yang demikian amat jarang. Jika salah satu dari kita mendapat kebahagiaan dengan menemukannya, lalu beliau menerima kita sebagai muridnya, maka kita harus memuliakannya lahir dan bathin. 

Dua 

Sosok guru yang mursyid amat jarang. Jika salah satu dari kita mendapat kebahagiaan dengan menemukannya, lalu beliau menerima kita sebagai muridnya, maka kita harus memuliakannya lahir dan bathin. 
Memuliakan beliau secara lahiriah atau zahirnya antara lain dengan sikap-sikap kita berikut. Kita, seorang murid, tidak membantahnya, tidak mencoba berargumentasi dalam masalah apapun, meskipun kita tahu seolah beliau salah. Kita tidak menggelar sejadah kita untuk shalat di hadapannya kecuali memang waktu menunaikan shalat fardhu. Setelah selesai shalat, segera angkat sejadah kita. Kita tidak membanyak-banyakkan shalat sunnah kita di hadapan beliau. 
Kita kerjakan apa yang beliau perintahkan sesuai kelapangan dan kemampuan kita. 
Sedangkan secara batin, kita memuliakan guru mursyid dengan meyakini bahwa apapun yang kita dengar dan terima dari beliau tidak kita ingkari dalam batin kita. Baik yang kita terima itu perbuatan ataupun perkataan, agar kita terhindar dari cap nifaq. 
Jika kita tidak mampu, maka tinggalkan kebersandingan kita dengan beliau, hingga batin kita tidak lagi mengingkari apa yang kita terima dari beliau. 
Selain itu semua, hendaklah kita membatasi duduk bersama orang yang buruk akhlaknya, agar domain kekuasaan setan jin dan setan manusia semakin lemah dari lingkaran hati kita. Maka kita terhindar dari noda-noda setan. 
Lebih dari segalanya, kita sebagai seorang murid lebih memilih kefaqiran ketimbang kekayaan. 
(Ayyuhal Walad)

Tentang Apa yang Biasa Disebut Ikhtiyar 

Sedikit tentang Ikhtiar
Tampak jelas rasa letih dan payah pada rombongan Kanjeng Nabi Muhammad setelah mereka menyelesaikan satu bagian perjalanan yang melelahkan.
Ketika menemukan suatu oase yang tentunya sudah mereka teliti dan selidiki, turunlah mereka menuju oase tersebut, menghampiri air lebih dekat. Masing-masing melepaskan perlengkapan dan segala bawaan yang membebaninya. 
Para sahabat turun dari kendaraan mereka dan mengikat tumpakan dan barang bawaan mereka. Nabi juga turun bersama bersama para sahabat menuju air yang sudah disediakan untuk berwudhu dan shalat. 
Namun tiba-tiba Kanjeng Nabi cepat-cepat kembali menuju tempat di mana unta beliau berada. Para sahabat bingung. Sebagian mengira bahwa beliau tidak berkenan dengan tempat ini. Sebagian menduga Kanjeng Nabi akan menyuruh berangkat dan meninggalkan tempat untuk mencari tempat lain. 
“Rasulullah, hendak kemana Engkau?” tanya sebagian sahabat. 
“Mengikat untaku,” jawab Kanjeng Nabi singkat. 
“Biar kami yang mengikatkannya, wahai Rasulullah,” sahut sebagian lain.
“Siapapun jangan pernah merasa cukup selain dengan dirinya sendiri! Meskipun hanya sekedar menggigit kayu siwak,” dawuh Kanjeng Nabi tajam.
Semoga kita bisa meneladani akhlak Kanjeng Nabi. 
(Qashash al-Abrar)

Dua Karakteristik Tasawuf

Tasawuf memiliki dua karakter. Istiqamah bersama Allah dan tenang di sekitar makhluk-Nya. 
Orang yang istiqamah bersama Allah dan berakhlak baik terhadap manusia dengan menjalin pergaulan bersama mereka dengan baik, itulah sufi. 
Istiqamah di sini berarti menyerahkan porsi diri kita yang sudah dijamin untuk menjadi urusan Allah saja. 
Berakhlak baik terhadap manusia maksudnya kita tidak memaksa orang-orang menuruti kehendak kita. Tapi justru kita memaksa diri kita menuruti kehendak orang-orang, selagi mereka tidak keluar dari prinsip ajaran agama (syara’).
Mudah-mudahan Allah menjadikan dua karakteristik di atas sebagian dari pekerti kita.

(Ayyuhal Walad – Imam Ghazali)

Dokter Bedah dan Ayah Pasien

Sebuah Kisah – Sebuah Pelajaran:
Seorang dokter bedah bergegas menuju rumah sakit setelah ia dipanggil untuk segera melaksanakan operasi terhadap salah seorang anak yang kondisinya amat mengkhawatirkan. 
Saat hendak masuk ke ruang operasi, seorang pria, ayah si pasien, berteriak tepat di depan muka si dokter, “Kenapa baru datang? Anda tidak merasakan kecemasan saya?”
Dokter bedah itu tersenyum kosong seraya berkata, “Saya minta Bapak tenang dan biarkan saya melaksanakan tugas. Percayalah, anak Bapak sesuai dengan apa yang diinginkan.”
“Sejuk sekali ucapanmu! Kalau nyawa anakmu sedang di ujung ajal, apa kau bisa tetap tenang? Gampang betul nasehat orang yang telat datang!” balas ayah si anak.

Sang dokter meninggalkannya dan masuk ke ruang operasi. Dua jam kemudian ia segera keluar dari ruangan. Lalu berkata kepada ayah pasien, “Operasi berhasil, alhamdulillah, dan anak Bapak dalam keadaan baik. Saya pamit. Saya ada urusan lain.”
Dokter itu cepat-cepat pergi tanpa menunggu respon ayah pasiennya. 
Ketika perawat keluar, ayah pasien itu bertanya, “Ada apa dengan dokter yang tampak linglung itu?”

 

Perawat itu menjawab, “Anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil bersamaan dengan panggilan untuk mengoperasi anak anda. Setelah menyelamatkan hidup anak anda, ia harus cepat pergi untuk mengurusi penguburan anaknya!”

Ada banyak hati yang terluka dan tetap tidak berkata-kata! Maka, jangan menghakimi apapun sebelum anda benar-benar mengetahui!
(Tidak ada Tuhan selain Allah) 🙏

Diterjemahkan dari sebuah kisah dan ibrah 

Jakarta, 30 Mei 2017

Yakin dan Iman

Sering mendengar kata yakin? Yakin lebih radikal dan lebih fundamental daripada sekedar percaya. Saya katakan radikal dan fundamental karena yakin adalah akar keimanan. Bukan hanya memperkokoh langkah kita untuk berikhtiar, lebih dari itu yakin bisa menyingkap hal-hal ghaib, seperti surga, neraka dan lain sebagainya.
“Jika Tirai dibuka, maka aku tidak akan bertambah yakin,” kata Sayyidina Ali. Sebab Sayyidina Ali telah sampai kepada derajat yakin yang membuat mata hatinya mampu menyingkap segala tirai yang tertutup bagi mata kepala.

Jika percaya dan iman diibaratkan perahu dan kapal yang bisa diombang-ambingkan ombak keraguan, maka Yakin adalah batu karang yang bahkan memecah ombak, meluluh-lantahkan gelombang. Yakin kokoh dari dalam dan tak bergeming terhadap apapun dari luar. 

Ssst…! Bahkan terhadap seorang yang yakin, setan tidak mau mendekat. Setan pilih selamat dan lari menjauh. Ini kenapa Kanjeng Nabi sebutkan, “Sesungguhnya setan benar-benar berlari dari bayangan Umar. Tidaklah Umar melewati suatu lembah kecuali setan melewati lembah lain yang tidak dilalui Umar.”

Cara Menguatkan Keyakinan

Ada tiga cara menguatkan keyakinan yang ada di dalam hati kita.

1. Sibukkan hati dan telinga kita dengan ayat-ayat dan cerita-cerita tentang keagungan Allah, kekuasaan-Nya menciptakan makhluk dan mengurusinya sendirian, kedigdayaan-Nya mengukuhkan para utusan-Nya dengan mukjizat-mukjizat yang tak bisa dinalar, mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan cuma sebagian kecil kuasa-Nya.

2. Mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi yang sarat dengan keteraturan yang mengagumkan. Mengapa ujung kelopak mata kita ditumbuhi bulu mata? Mengapa kata yang saat ini kita baca punya gambar mental atau citra dalam pikiran kita? Dan masih banyak lagi!

3. Segera berbuat kebaikan sesuai apa yang kita yakini lahir dan batin serta mengerahkan segenap usaha untuk itu. Tidak ada yang lebih pasti selain memulai dengan segera.

Orang yakin akan tenang kepada janji Allah. Jadi ia tidak akan depresi, stres atau bermusuhan dengan kenyataan yang ia hadapi hari ini.

Orang yakin akan percaya penuh dengan jaminan Allah. Jadi ia tidak akan takut miskin, misalnya, lalu korupsi atau mencuri.

Orang yakin pasti menghadap Allah, tidak mungkin membelakangi Allah dan menuju yang lain. Maka ia mengerahkan segala kekuatannya demi mencapai ridha-Nya.
Alhasil, yakin adalah akar keimanan. Setiap maqam, akhlak mulia dan amal shaleh adalah dahan, ranting dan buah dari yakin. Baik-buruknya akhlak dan amal berawal dari kuat-lemahnya yakin, berangkat dari sehat atau sakitnya keyakinan seseorang.
Tingkatan Yakin

Yakinnya orang beriman ada tiga tingkatan.

1. Iman, yaitu meyakini dengan pasti tetapi masih mungkin datang keraguan saat ujian menimpanya. Ini tingkatkan Ashhab al-Yamin.

2. Yaqin, penuhnya iman dalam hati hingga tidak ada tempat bagi keraguan. Pada kondisi tersebut hal-hal ghaib menjadi sesuatu yang seolah bisa disaksikan. Ini tingkatan Muqarrabin.

3. Kasyaf, hal-hal ghaib menjadi benar-benar bisa disaksikan. Ini tingkatan para Nabi dan pewaris sempurnanya, yakni golongan shiddiqin.

(Risalah al-Mu’awanah)