Yakin dan Iman

Sering mendengar kata yakin? Yakin lebih radikal dan lebih fundamental daripada sekedar percaya. Saya katakan radikal dan fundamental karena yakin adalah akar keimanan. Bukan hanya memperkokoh langkah kita untuk berikhtiar, lebih dari itu yakin bisa menyingkap hal-hal ghaib, seperti surga, neraka dan lain sebagainya.
“Jika Tirai dibuka, maka aku tidak akan bertambah yakin,” kata Sayyidina Ali. Sebab Sayyidina Ali telah sampai kepada derajat yakin yang membuat mata hatinya mampu menyingkap segala tirai yang tertutup bagi mata kepala.

Jika percaya dan iman diibaratkan perahu dan kapal yang bisa diombang-ambingkan ombak keraguan, maka Yakin adalah batu karang yang bahkan memecah ombak, meluluh-lantahkan gelombang. Yakin kokoh dari dalam dan tak bergeming terhadap apapun dari luar. 

Ssst…! Bahkan terhadap seorang yang yakin, setan tidak mau mendekat. Setan pilih selamat dan lari menjauh. Ini kenapa Kanjeng Nabi sebutkan, “Sesungguhnya setan benar-benar berlari dari bayangan Umar. Tidaklah Umar melewati suatu lembah kecuali setan melewati lembah lain yang tidak dilalui Umar.”

Cara Menguatkan Keyakinan

Ada tiga cara menguatkan keyakinan yang ada di dalam hati kita.

1. Sibukkan hati dan telinga kita dengan ayat-ayat dan cerita-cerita tentang keagungan Allah, kekuasaan-Nya menciptakan makhluk dan mengurusinya sendirian, kedigdayaan-Nya mengukuhkan para utusan-Nya dengan mukjizat-mukjizat yang tak bisa dinalar, mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan cuma sebagian kecil kuasa-Nya.

2. Mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi yang sarat dengan keteraturan yang mengagumkan. Mengapa ujung kelopak mata kita ditumbuhi bulu mata? Mengapa kata yang saat ini kita baca punya gambar mental atau citra dalam pikiran kita? Dan masih banyak lagi!

3. Segera berbuat kebaikan sesuai apa yang kita yakini lahir dan batin serta mengerahkan segenap usaha untuk itu. Tidak ada yang lebih pasti selain memulai dengan segera.

Orang yakin akan tenang kepada janji Allah. Jadi ia tidak akan depresi, stres atau bermusuhan dengan kenyataan yang ia hadapi hari ini.

Orang yakin akan percaya penuh dengan jaminan Allah. Jadi ia tidak akan takut miskin, misalnya, lalu korupsi atau mencuri.

Orang yakin pasti menghadap Allah, tidak mungkin membelakangi Allah dan menuju yang lain. Maka ia mengerahkan segala kekuatannya demi mencapai ridha-Nya.
Alhasil, yakin adalah akar keimanan. Setiap maqam, akhlak mulia dan amal shaleh adalah dahan, ranting dan buah dari yakin. Baik-buruknya akhlak dan amal berawal dari kuat-lemahnya yakin, berangkat dari sehat atau sakitnya keyakinan seseorang.
Tingkatan Yakin

Yakinnya orang beriman ada tiga tingkatan.

1. Iman, yaitu meyakini dengan pasti tetapi masih mungkin datang keraguan saat ujian menimpanya. Ini tingkatkan Ashhab al-Yamin.

2. Yaqin, penuhnya iman dalam hati hingga tidak ada tempat bagi keraguan. Pada kondisi tersebut hal-hal ghaib menjadi sesuatu yang seolah bisa disaksikan. Ini tingkatan Muqarrabin.

3. Kasyaf, hal-hal ghaib menjadi benar-benar bisa disaksikan. Ini tingkatan para Nabi dan pewaris sempurnanya, yakni golongan shiddiqin.

(Risalah al-Mu’awanah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s