Disfungsi Shalat

​Tulisan singkat ini adalah saduran lepas dari salah satu karya terkenal Imam Abdullah Ba ‘Alawi Al-Haddad berjudul Al-Nashaih Al-Diniyyah, tepatnya di sebagian kecil dari pembahasan tentang shalat. 

Kata shalat saya artikan dengan kata sembahyang, sebagaimana orang-orang tua kita dulu menyebut shalat dengan sembahyang, dengan netepan (Sunda) dan tentu dengan bahasa daerah nusantara lainnya. Sebagaimana guru-guru kita dulu menyebut tempat sembahyang dengan istilah langgar, tajuk, surau dan lain-lain. Jadi semacam penghargaan terhadap kedaerahan, loyalitas terhadap lokalitas, yang salah satunya adalah bahasa. 

Masih terekam jelas di benak saya manakala guru ngaji kami beberek saat adzan mulai berkumandang, “Gidah pada sembahyang lu di langgar!” 

Langgar untuk anak Jakarta dan sebagian putra Jawa seperti tajuk bagi cah Cirebon dan surau buat anak Sumatera. Langgar selain sebagai tempat kami mengaji dan melantunkan puji-pujian khas daerah juga sekaligus jadi tempat bermalam kami yang sudah dianggap remaja dan mampu mandiri. Langgar bukan cuma sebagai tempat sembahyang. 

Dan, sekali lagi, shalat saya artikan sembahyang dalam tulisan ini. Semoga tidak menimbulkan alergi. Dan jangan cepat emosi! Silahkan juga lihat tulisan saya https://penawajdi.wordpress.com/2014/02/18/catatan-kecil-jumat/

Bismillahirrahmanirrahim.

Sembahyang adalah tiang agama. Ia bagian terpenting kedua setelah syahadat kita, persaksian kita bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.

Perumpaan sembahyang bagi agama seperti kepala bagi tubuh. Tanpa kepala, tubuh setiap manusia tidak akan mungkin hidup. Tanpa sembahyang, agama setiap manusia tidak akan hidup, pasti mati.
Sembahyang yang sesungguhnya pasti mencegah si pelaksana sembahyang dari perbuatan keji dan munkar. Pasti!
Ini janji Allah:

(وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)

“Dan dirikanlah sembahyang. Sesungguhnya sembahyang itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

[Surat Al-Ankabut 45]

Lalu kenapa masih ada saja orang yang sembahyang juga tetapi korupsi juga? 

Sembahyang juga tetapi begitu mudah menyakiti sesama? 

Sembahyang juga tetapi menebar kebencian di mana-mana? 

Sembahyang juga tetapi hatespeech di sosial media bahkan di dunia nyata?

Begini duduk persoalannya. Sembahyang memiliki bentuk zahir/ bentuk lahir dan esensi batin. Bentuk lahir sembahyang meliputi berdiri, rukuk, sujud dan segala gerakan sembahyang.

Esensi batin sembahyang meliputi kekhusyukan, hadirnya hati, sempurnanya keikhlasan, perenungan makna bacaan, mengagungkan Allah dan segenap sikap batin kita.

Bentuk lahir dan esensi batin dari sembahyang harus terlaksana semuanya. Harus terlaksana kedua-duanya. Bentuk lahir itu tugas anggota badan. Esensi batin itu tugas hati dan sirr. Hati dan sirr inilah objek pandangan Allah terhadap hambanya, bukan kostum dan warna kulitnya. 

Hilangnya fungsi sembahyang yang bisa mencegah kekejian dan kemungkaran akibat tidak terlaksananya satu dari dua bagian sembahyang itu.

Yuk kita berkaca! Sudahkan kita laksanakan kedua bagian itu?

Imam Ghazali, Rahimahullah, berkata, “Perumpamaan orang yang melaksanakan bentuk lahir sembahyang dan melalaikan esensi batinnya seperti orang yang mempersembahkan bangkai kepada seorang raja. Dan perumpamaan orang yang ceroboh terhadap bentuk lahir sembahyang seperti orang yang mempersembahkan persembahan yang buntung anggota badannya serta cacat matanya. Kedua orang ini layak dikenakan hukuman dan sanksi sang raja lantaran persembahan yang buruk. Sedangkan engkau mempersembahkan sembahyangmu kepada Tuhanmu. Maka hindari persembahan yang buruk macam tadi atau engkau layak menerima sanksi dan hukuman-Nya!”

Mari introspeksi! Sudahkah sembahyang kita mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar? Atau masih tetap terjebak dalam kekejian dan kemunkaran lantaran persembahan sembahyang kita sedemikian buruk?

Semoga Allah melindungi kita dari sembahyang yang tidak sempurna.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s