Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 5-8

5 – كما أخرجك ربك من بيتك بالحق وإن فريقا من المؤمنين لكارهون

“Sebagaimana Tuhanmu mengeluarkanmu dari rumahmu dengan sebenar-benarnya. Dan sesungguhnya sebagian orang-orang beriman tidak suka.”

 

Ayat ini menyatakan sebagian orang-orang beriman ada yang tidak suka dengan keputusan Nabi dalam penyamaratan harta taklukan perang sebagaimana mereka tidak suka dengan keputusan Allah saat memerintahkan Nabi keluar rumah untuk memerangi orang musyrik Mekkah.

 

Saat itu Abu Sufyan pulang dari perjalanan dagang dari Syam (Syiria sekarang). Ia memimpin kafilah dagang. Kafilah dagang biasa disebut ‘Ir’, yang hanya berisi 40 orang dan bukan pasukan yang disiapkan untuk berperang. Perjalanan dari Mekkah menuju Syam atau sebaliknya pasti lewat jalur yang dekat dengan pusat kota Madinah. Mengetahui kabar ini, Rasulullah saw. dan para sahabat keluar dari Madinah, mencegat kafilah dagang Abu Sufyan untuk mendapatkan harta taklukannya. Perlu diketahui juga, ini bukan aksi semena-mena dari orang mukmin di Madinah. Tetapi reaksi dari perbuatan musyrik Quraisy yang beberapa bulan sebelumnya mengusir seorang sahabat Anshar yang sedang melakukan Umrah. Lama menunggu kafilah dagang Abu Sufyan, tidak membuahkan hasil. Ternyata Abu Sufyan telah mengetahui rencana orang mukmin. Ia mengambil jalur Al-Sahil, jalur yang tidak biasa dilaluinya dan selamat dari cegatan orang mukmin.

 

Kabar kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan yang hendak dicegat orang mukmin sampai ke telinga orang musyrik Mekkah. Abu Jahal mempersiapkan hampir seribu pasukan perang. Ini biasa disebut ‘Nafir’, pasukan terlatih lengkap dengan persenjataan, berbeda dengan ‘Ir’. Sebenarnya Abu Sufyan telah menyuruh Abu Jahal untuk mengurungkan rencana menyerang orang mukmin Madinah, toh kafilah dagang Mekkah selamat. Harta perniagaan saudagar-saudagar Mekkah yang dititipkan di kafilah itu tidak jadi dirampas. Tapi Abu Jahal kukuh untuk tetap terus berangkat ke Badar.

 

Persiapan Mekkah menyerang Madinah diketahui oleh Rasulullah saw. Beliau bermusyawarah dengan para sahabat. “Allah memang telah menjanjikan kepadaku satu dari 2 rombongan (Ir atau Nafir),” demikian sabda Rasulullah saw. Para sahabat sepakat untuk menghadapi apapun, termasuk menghadapi hampir seribu pasukan (nafir) yang telah disiapkan Abu Jahal dari Mekkah. Dalam musyawarah itu Abu Bakar dan Umar menguatkan tekad kaum mukmin untuk berangkat melawan musyrik Mekkah. Lalu beberapa sahabat Anshar memperkuat lagi.

 

“Apapun yang terjadi, kami ikut dan taat kepadamu, wahai Rasulullah,” kata sebagian sahabat. Rasulullah saw. tersenyum. Sebagian besar sahabat setuju berangkat perang. Namun ada sebagian mereka ada yang tidak setuju dan tidak suka dengan keputusan ini, dengan alasan tidak siap menghadapi bala tentara Musyrik Mekkah. Dan ini diabadikan dalam ayat berikut:

 

 

6 – { يجادلونك في الحق بعد ما تبين كأنما يساقون إلى الموت وهم ينظرون

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran setelah kebenaran itu jelas bagi mereka seolah mereka digiring kepada kematian padahal mereka melihat.”

Orang-orang Madinah yang tidak setuju dengan keberangkatan perang melawan musyrik Mekkah beralibi bahwa kekuatan mereka tidak sebanding. Mereka tidak suka dengan keputusan ini. Tampak pada mereka gambaran kematian yang menakutkan. Padahal jelas Allah mewajibkan peperangan dimaksud dan mereka megetahui kewajiban itu.

 

Tentang kewajiban berperang dan haramnya berlari dari medan peperangan, fardhu ‘ain atas orang yang tinggal di radius 2 marhalah (90 km) dari medan berperang. Haram hukumnya melarikan diri dari medan peperangan saat musuh hanya 2 kali lipat, sebagaimana nanti dijabarkan kembali di ayat 15 Surat ini.

 

7 – وإذ يعدكم الله إحدى الطائفتين أنها لكم وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم ويريد الله أن يحق الحق بكلماته ويقطع دابر الكافرين

Dan ingatlah saat Allah menjanjikan kepada kalian satu dari dua rombongan, bahwa salah satunya untuk kalian. Kalian menginginkan rombongan yang tanpa kekuatan perang untuk kalian. Dan Allah menginginkan Kebenaran menjadi nyata dengan kata-katanya dan terputusnya ujung orang-orang kafir.”

 

Dua rombongan yang dimaksud ayat di atas adalah antar ‘Ir’ dan ‘Nafir’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Orang-orang Madinah yang tidak menyukai keputusan berperang melawan Musyrik Mekkah adalah lantaran sejak awal mereka berharap dipertemukan dengan rombongan kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan yang Cuma 40 orang dengan harta taklukan atau ghanimah menggiurkan, bukan rombongan 1000 pasukan perang terlatih Mekkah pimpinan Abu Jahal. Tapi Allah punya kehendak lain. Maka Allah mewajibkan berperang. Tidak lain karena Allah ingin menyatakan yang benar itu benar dan ingin membuktikan bahwa Dia kelak akan memutus kekuatan orang-orang kafir dan memenangkan pasukan muslim. Ini menjadi kenyataan. Abu Jahal dan sekitar 70 jagoan Musyrik Mekkah mati di medan Badar.  Hendaklah orang-orang Madinah yang enggan dengan keputusan wajib berperang Badar mengingat peristiwa ini.

 

 

 

8 – ليحق الحق ويبطل الباطل ولو كره المجرمون المشركون ذلك

“Agar Dia membenarkan Kebenaran dan membatalkan kebatilan meskipun para pendosa itu tidak suka.”

 

Keputusan Allah mempertemukan mukmin Madinah dengan bala tentara Musyrik Mekkah yang terlatih itu sebagai cara Allah membuktikan yang benar itu benar, Nabi Muhammad Saw dan orang-orang beriman itu benar. Juga untuk menghapus kebatilan, yakni kekufuran yang menjadikan orang Mekkah mengingkari kerasulan Muhammad.

 

Demikian kehendak Allah beserta cara merealisasikannya lewat peristiwa Badar, perang terbesar pertama dalam sejarah Islam, akan tetap terlaksana meskipun orang-orang Musyrik itu tidak suka.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s