Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 1-4

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Surat Al-Anfal, 75 ayat, Madaniyyah kecuali ayat 30 sampai ayat 36.

Kaum muslimin berselisih tentang harta taklukan perang atau ghanimah yang juga disebut Al-Anfal, judul Surat ini. Barisan muda berdalih, “Harta taklukan ini untuk kami, karena kami terjun langsung ke medan pertempuran.” Barisan senior berargumentasi, “Jangan merasa paling berhak! Kami melindungi kalian dari belakang di bawah panji-panji. Kalau kocar-kacir, kalian juga pasti berlari kepada kami.” Maka turunlah ayat berikut

1 –  يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَنفَالِ قُلِ الأَنفَالُ لِلّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُواْ اللَّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ وَأَطِيعُواْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang harta taklukan perang. Katakanlah: “Harta taklukkan perang kepunyaan Allah dan Rasul, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.””

Hukum harta taklukan perang atau Al-Anfal sejatinya urusan Allah. Dialah yang menetapkan hukumnya dan Rasulullah yang membagikannya sama rata sesuai ketetapan Allah. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Pembagian sama rata ini sebelum ada ayat tentang Khumus, yakni bagian seperlima yang diperuntukkan bagi Rasul. Ayat ini lebih mengutamakan ketakwaan kaum muslim, ketaatan pada Rasul dan perbaikan hubungan persaudaraan antara mereka, tidak saling berebut harta taklukan perang dan tetap saling mengasihi. Inilah yang harus diwujudkan oleh orang-orang beriman.

Kata Al-Anfal adalah jamak dari Nafal, yang berarti bonus atau kelebihan. Sebagaimana solat sunnah disebut dengan nafilah atau kelebihan dari solat wajib, Al-Anfal ini adalah kelebihan dari Allah untuk Umat Muhammad. Dalam syariat umat sebelumnnya, harta taklukan perang tidak dihalalkan. Umat sebelum Muhammad tidak boleh mengambilnya, tetapi ditinggalkan di medan peperangan. Inilah sebab mengapa ghanimah disebut Al-Anfal  atau bonus untuk umat Islam (Ahmad Al-Shawi)

Setelah memerintahkan takwa kepada-Nya, mentaati Rasul-Nya dan menjaga hubungan baik sesama orang beriman, Allah menjabarkan sejatinya orang beriman dalam ayat berikut.

 

2 – إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون

3 – الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون

 

“Hanya bisa disebut beriman mereka yang ketika Allah disebutkan, hati mereka takut. Dan ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, iman mereka bertambah, serta hanya kepada Tuhan mereka berserah diri.”

 

Dalam ayat ini Allah menjelaskan sebagian ciri-ciri orang yang imannya sempurna. Ada 5 ciri. Tiga yang pertama merupakan sikap batin. Lainnya merupakan sikap lahiriah. Pertama, orang beriman saat disebutkan ancaman Allah, hatinya takut. Kaitannya dengan ayat ini antara lain ancaman merusak hubungan sesama manusia hanya karena berebut harta taklukan perang. Kedua, orang beriman ketika tanda-tanda kekuasaan Allah dibacakan, iman mereka bertambah. Tanda-tanda kekuasaan Allah atau ayat-ayat-Nya bisa berupa ayat Qauliyah, yaitu Al-Quran, maupun ayat Kauniyah, yaitu segala penciptaan alam semesta ini. Untuk melatih sikap yang pertama dan kedua ini, perlu tafakkur, perlu latihan merenungkan.

Medan tafakkur, selain ancaman dan janji Allah, serta kekurangan diri sendiri, juga tafakkur terhadap ayat-ayat Allah. Inilah mengapa tafakkur sesaat saja lebih baik daripada ibadah seribu tahun tanpa merenungi makna ibadah tersebut. (Syaikh Nawawi, Nasaih al-Ibad)

 

Ketiga, orang beriman hanya berserah diri kepada Allah, pasrah ‘bongkokan’. Tawakkal dan bersandar hanya kepada Allah, bukan kepada selain Allah. Bukan kepada harta, jabatan, bahkan bukan kepada ilmu dan amal. Sikap tawakkal yang menambahkan keimanan adalah tawakkal yang dibarengi dengan yakin. Saat kita yakin bahwa Allah menjamin semua rizki makhluk-Nya, dan tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati, maka inilah iman yang sempurna.

 

“Yakin itu adalah iman paripurna,” demikian sabda Rasulullah saw. (Abdullah al-Haddad, al-Nasaih al- Diniyyah). Dampaknya tidak akan ada perilaku serakah dan berebut harta duniawi, dalam konteks ayat ini harta taklukan perang.

 

Keempat, orang beriman melaksanakan solat dengan syarat, rukun serta adabnya. Solat memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Ke atas, solat untuk mengingat Allah. Horizontalnya, solat harus mencegah pelakunya dari berbuat keji dan mugkar. Orang yang melaksanakan solat yang sesungguhnya tidak akan bertengkar hanya sebab memperebutkan harta dunia. Kelima, orang beriman bersedia mendermakan sebagian hartanya untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridhai Allah, tidak pelit dan terhindar dari sifat egois.

 

4 – أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم

“Mereka itulah orang beriman yang sebenarnya. Bagi mereka kedudukan di sisi Tuhan dan ampunan serta rizki yang mulia.”

 

Janji Allah bagi mereka yang iman dengan sebenar-benar iman – tanpa keraguan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, temasuk perihal pembagian harta taklukan perang dengan sama rata – adalah kedudukan yang istimewa di dunia sebagai orang-orang yang dicintai-Nya dan di akhirat dengan surga. Selain itu Allah menjanjikan orang beriman dengan ampunan dan rizki yang mulia. Dalam ayat ini, maghfirah atau ampunan didahulukan atas rizki. Karena untuk memperoleh perlakuan baik berupa pelimpahan rizki, seseorang tentu lebih dahulu menjadi orang yang disayangi dengan dimaafkan segala kesalahan kesalahannya. Setelah itu, baru diberikan apa yang ia butukan dan yang ia mau.

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s