Salafi Kini Dan Salaf Soleh Dulu

Salaf dalam bahasa Indonesia berarti orang terdahulu. Dalam kebudayaan Islam Salaf memiliki arti khusus.

Salaf merujuk pada generasi setelah tabi’in. Tabi’in adalah generasi setelah masa para sahabat.

Sedangkan Salafi hari ini mununjuk kepada suatu kelompok yang menjalankan Islam secara murni.

Murni dalam arti kembali kepada cara hidup dan beragama generasi Nabi, sahabat dan tabi’in beberapa abad lalu.

Salafi kini berpakaian dan berpenampilan lahiriah meniru generasi awal Islam ratusan tahun silam.

Generasi salaf, bukan salafi kini, menghiasi periode emas Islam pada sekitar abad ke 8 Masehi atau sekitar abad ke 2 Hijriah.

Ada banyak peninggalan yang bisa dibanggakan dari generasi salaf. Antara lain berupa karya ilmiah yang hingga kini masih bisa ditelaah.

Dalam bidang Ilmu Kalam pemikiran Washil Bin ‘Atha merupakan cikal-bakal Islam rasionalis di abad modern.

Faham Jabariah, Qadariah, Murjiah dan faham minoritas lainnya dibiasakan_bukan dibinasakan_dikaji dan dihormati dalam perbedaan.

Di bidang syariat fase salaf melahirkan 4 imam mujtahid yang kepadanya hukum-hukum fiqih dinisbatkan.

Empat Imam Mazhab besar dalam fiqih yang hingga kini pendapatnya masih diikuti para pengikutnya: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali.

Di bidang hadits, muncul Imam besar hadits, Al Bukhari, Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah.

Di bidang Hadits dan tafsir muncul ulama yang toleran terhadap perbedaan dalam penggunaan metode dan hasil pemikiran.
&&
Selain peninggalan berupa buku atau pemikiran, demikian generasi salaf juga meninggalkan banyak teladan dalam akhlak.

Tidak heran jika Kanjeng Nabi Muhammad menyebut generasi salaf termasuk satu dari tiga generasi terbaik.

Pada periode salaf telah muncul banyak perbedaan pendapat dalam Islam, di bidang syariat, tasawuf, filsafat bahkan teologi atau ilmu ketuhanan.

periode Salaf ini sarat dengan perbedaan pandangan. Akibatnya semakin memperkaya khazanah ilmu.

Khazanah ilmu yang nantinya membuat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia.

Khazanah ilmu yang pada gilirannya menyinari Eropa dan belahan dunia lain yang banyak belajar dari Islam.

Perbedaan pandangan dan perdebatan pendapat itu boleh dalam islam. Bahkan bisa membuat Islam semakin sempurna.

Suatu aliran atau mazhab punya kekurangan dan kekurangan itu dilengkapi oleh aliran atau mazhab lain.

Inilah kondisi yang dihadapi oleh generasi Salaf: hari-hari yang kaya akan perbedaan pandangan.

Apakah perbedaan pandangan itu melemahkan Islam dan membuat generasi salaf berpecah-belah?

Jawabannya, tidak! Sama sekali tidak! Karena generasi salaf yakin bahwa perbedaan pendapat dalam  umat adalah rahmat.

Akhlak luhur generasi salaf mengalahkan kebanggaannya sebagai pelaksana ajaran Nabi dan para sahabat.

Bukan malah bangga merasa paling memurnikan ajaran dan paling berhati-hati lalu mengalahkan akhlak.

Lagipula melaksanakan ajaran Nabi seharusnya secara utuh, bukan hanya lahiriah saja, cara berpakaian saja misalnya.

Akhlak Nabi yang pertama. Kedua, laksanakan semangat Nabi dalam menghargai tradisi di mana tempat beliau berdakwah, pada masa beliau berdakwah.

Kanjeng Nabi sangat menghargai konteks, tempat dan waktu beliau berdakwah.

Hingga penghargaan terhadap tradisi setempat menjadi akhlak Nabi dalam sikap berislam secara lokal, bukan global.

Dengan lokalitas Islam menjadi fleksibel dan kaya. Islam menjadi agama yang cocok dengan segala tempat dan waktu.

Dengan lokalitas Islam membuat perbedaan justru saling melengkapi. Saling menyempurnakan.

Ada kata-kata Imam Syafi’i yang sangat bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan.

“Mazhab kami benar dan masih mengandung kesalahan. Mazhab di luar kami salah dan masih mengandung kebenaran.”

Karenanya amat pantas mereka disebut sebagai salaf soleh. Bukan sekedar salafi-salafi biasa yang terkesan aneh.

Karena soleh berarti berlaku layak sebagai hamba sesuai zaman dan tempat di mana ia hidup.

Kalau para salafi di abad ini sangat berhati-hati dalam meneliti pemurnian ajaran, hati-hatilah dalam segala hal.

Termasuk juga hati-hati dalam menilai perbedaan dan orang yang punya pandangan agama yang berbeda dengan mereka.

Sehingga sifat ekslusif tidak lagi menjadi ciri dari salafi. Sikap inklusif jadi kehangatan mereka dalam menyikapi perbedaan.

Mari membangun cara beragama yang ramah dan toleran. Mari menciptakan Islam yang menjadi kasih sayang bagi semua golongan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s