Bukan Sekedar Bersih (Malam sabtu keempat)

Layak. Itu kata kunci sebelum kita menghadap orang yang kita hormati. Tidak selayaknya kita bertemu orang yang kita cintai dan belum tentu ia mencintai kita dengan persiapan sembarangan. Paling tidak, kita berdandan semampunya untuk menemuinya.

Demikian dalam ibadah. Pertemuan kita dengan Tuhan juga perlu dipersiapkan. Ada standar minimal untuk itu. Bersih dan berpakaian rapih batas paling rendahnya.

Bersuci atau thaharah itu pintu ibadah. Bersuci bukan cuma sekedar mencuci. Bersuci menghilangkan kotoran pada tubuh, tempat dan pakaian. Bersuci juga menghilangkan hadats, yakni kejadian manusiawi yang mengurangi kelayakan kita untuk solat, seperti hajat dan menyentuh lawan jenis dewasa bukan mahram tanpa penghalang.

Itulah dua aspek thaharah dalam Islam; bersuci dari najis dan dari hadats.

Maka ditetapkanlah tata-cara mencuci najis dan mengangkat hadats. Dirumuskanlah mana yang najis dan mana yang dianggap hadats. Berlakulah menbasuh dan wudhu sebagai syarat melaksanakan ibadah seperti solat.

Bersuci atau thaharah ada empat tingkatan. Pertama, membersihkan tubuh dari najis dan hadats sebagaimana telah disebut di atas. Ini bersuci para pemula. Kedua, membersihkan anggota tubuh dari segala kemaksiatan. Menjaga mata, telinga, kaki, tangan dan segenap anggota badan dari perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini bersucinya para salikin.

Ketiga, membersihkan hati dari segala penyakit hati, seperti ujub, riya’, sombong, marah dan lainnya. Keempat, membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah. Ini yang paling tinggi, merupakan bersucinya para Nabi dan Shiddiqqin.

Keempat derajat thaharah itu harus dilatih terus menerus. Selain untuk mencapai kesempurnaan ibadah, juga untuk menghindarkan kita dari bersuci yang cuma sampai kulit belaka. Dari menyibukkan diri dengan thaharah yang zohir, berdandan dan berpakaian lahiriah tapi melupakan yang batiniah yang lebih penting.

Menghindarkan dari bergaya islami, namun hati penuh rasa benci dan kesombongan: merasa paling islami sambil menuduh orang lain dengan tuduhan keji. Padahal mereka sama-sama muslim.

Sayyidina Umar pernah berwudhu dari wadah milik orang kafir. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kebersihan hati sangat penting. Jangan sampai bersih dan bergaya islami tapi hati penuh rasa benci kepada orang lain, meskipun terhadap non muslim.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s