Memanggil Tuhan atau Sponsor dan Iklan

Satu hari saya bertemu dengan seorang kawan di satu kajian. Dia menceritakan obrolannya beberapa waktu lalu dengan umat Budha.

Di Taman Mini Indonesia Indah, penganut Budha ini bertanya kepada teman saya, “Apa menurut umat muslim Tuhan itu jauh?” Tidak, jawab teman saya. “Lalu mengapa dalam berdoa umat muslim sering memakai pengeras suara?” Teman saya bilang, itu cuma sebagian muslim saja, tidak semua. Saya pribadi tidak setuju dengan pengeras suara yang mengesankan kementang-mentangan mayoritas. Ojo dumeh!

Kalaupun untuk memanggil solat, cukup satu kampung satu pengeras suara. Bacaan solat tidak usah dikeraskan keluar masjid, apalagi doa dan pengajian, tabligh akbar dan semacamnya. Kalaupun butuh pengeras suara, cukup suara untuk menjangkau jamaah pengajian di majlis itu saja. Karena kita hidup bersama saudara kita yang mungkin punya kesibukan lain, atau butuh ketenangan dari suara bising. Apalagi berdoa sambil menangis-nangis di depan kamera!

Seusai dari ekspedisi Khaibar, Kanjeng Nabi melewati lembah dan perbukitan. Bersama pasukan menikmati perjalanan pulang. Tiba-tiba, sebagian orang berteriak-teriak megucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan suara keras. Nabi menegur mereka, “Untuk diri kalian sendiri! Kalian bukan sedang memanggil Orang Tuli yang jauh. Sesungguhnya yang kalian panggil adalah Yang Maha mendengar lagi maha dekat.”

Memanggil Allah, berdoa dalam bahasa arabnya, punya beberapa tata-krama yang harus dipatuhi. Pertama,cuma kepada Allah. Karena yang dipanggil adalah Allah semata, maka adab berikutnya harus terpenuhi: merendah, bersuara pelan, tidak berlebihan, takut dan penuh harap.

Merendahlah. Bagaimana mungkin kita butuh kepada Allah dan minta kepada-Nya dengan sikap tinggi hati, ujub dan merasa paling dekat dengan-Nya. Bersuara pelan. Sebab Allah lebih dekat dari nadi kita, Maha mendengar segala yang samar. Berdoalah dengan tenang dan penuh keyakinan, bukan dengan berteriak skeptis terhadap kemahamendengaran Allah.

Jangan berlebihan dan mendikte Allah. Seseorang berdoa kepada Allah agar diberikan bidadari surga yang menyambutnya datang dari sisi kanan surga. Menuangkan air minum ke cawan dan memandikannya. Memohon perlindungan kepada Allah dari siksa hidup, tetangga yang buruk, penghasilan yang minim, keadaan kekurangan jajan anak-anak dan kebangkrutan usaha kecilnya: jual pulsa dan es lilin. Ini doa yang berlebihan. Mintalah kebaikan dunia akhirat. Mohonlah perlindungan dari segala hal buruk. Cukup itu. Tidak berlebihan.

Takutlah kepada Allah kalau ia membalas dosamu dan menolak amal-ibadahmu. Penuhkan harapmu cuma kepada Allah. Hilangkan sikap pesimis terhadap pemberiannya dan karuniaNya yang maha banyak.

Dan lebih dari segala adab di atas, berdoalah dari satu titik keberangkatan: taubat dan hati yang bersih. Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s