Dia Yang Maha (Malam Sabtu kedua)

Allah Tuhan yang Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah Terdahulu, tanpa awal. Dia terus ada, tanpa akhir, abadi tanpa ujung. Dia langgeng, tanpa terputus. Dia senantiasa bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan yang tidak akan pernah berkurang dalam keabadian, tidak akan rusak dalam batas waktu.

Bahkan Dia Yang Pertama dan Terakhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dia tidak berjisim, tidak sama dengan makhluk apapun dan makhluk tidak ada yang sama dengan-Nya.

Allah tidak dilingkupi oleh arah apapun, tidak dilingkupi oleh bumi dan langit. Allah bersinggasana di atas Arsy dengan cara yang Allah sendiri katakan dan dengan pengertian yang Dia kehendaki.

Allah di atas Arsy dan di atas langit.

Allah melampaui segala sesuatu, mengungguli segala sesuatu dengan keunggulan yang tidak menjadikan-Nya lebih dekat kepada Arsy dan langit, dengan keunggulan yang tidak membuat-Nya semakin jauh dari bumi.

Dia Maha Tinggi dari Arsy dan langit, sebagaimana Dia Maha Tinggi dari bumi dan benda langit lainnya. Bersamaan dengan itu, Allah juga Maha dekat dengan segala yang ada. Dan Dia lebih dekat kepada seorang hamba daripada urat nadi si hamba. Kedekatan-Nya tidak sama dengan kedekatan benda-benda, sebagaimana Dzatnya tidak sama dengan Dzat benda-benda.

Allah tidak menempati segala sesuatu dan segala sesuatu tidak menempati-Nya. Maha Tinggi Allah yang tidak diliputi ruang. Maha Suci Allah yang tidak dibatasi waktu. Dia telah ada sebelum Dia menciptakan ruang dan waktu. Dia yang sekarang tetap sebagaimana Dia yang telah ada sebelumnya.

Allah dimaklumkan ada-Nya oleh akal, bisa dipandang dengan mata kepala nanti di daerah keabadian akhirat, sebagai nikmat dari-Nya dan sifat kemahalembutannya terhadap orang-orang baik, sebagai nikmat paripurna para penghuni surga dengan memandang wajah-Nya yang Mulia.

Allah Hidup, Mahakuasa, Mahamemaksa. Tidak mungkin menyentuh-Nya kekurangan dan kelemahan. Tidak juga menyentuh-Nya sifat lupa dan tidur. Tidak juga menyerang-Nya kerusakan, tidak juga mati.

Allah sendiri menciptakan dan mewujudkan, sendiri dalam mengadakan dan menitahkan. Allah mengetahui seluruh pengetahuan, meliputi segala yang berjalan di bumi hingga atas langit. Tidaklah luput dari pengetahuan-Nya sebutir partikel pun di bumi maupun di langit. Bahkan Dia mengetahui langkah halus semut kecil hitam di atas batu hitam legam di gelap-pekatnya malam.

Allah mengetahui gerak debu-debu di udara. Dia mengetahui rahasia dan yang paling tersembunyi. Dia melihat gejolak hati, gerak benak dan rahasia yang tersembunyi dengan pengetahuan sejak dulu lagi kekal, pengetahuan yang selalui bersifat demikian.

Dia mengurus setiap benda, mengurus setiap makhluk. Maka, dalam alam fisik dan non fisik, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali sebab ketetapan, kepastian, kebijaksanaan dan kehendak-Nya. Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi. Apa yang tidak Dia kehendaki, tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak perintah-Nya, tidak ada yang membantah ketetapan-Nya.

Sesungguhnya Allah Mahamelihat, Mahamendengar. Tidak ada yang luput dari pendengaran-Nya bunyi apapun, meskipun amat tersembunyi. Tidak luput dari penglihatan-Nya objek apapun, meskipun amat sangat kecil. Tidak akan menutupi pendengaran-Nya apa yang dinamakan jauh. Tidak akan menghalangi pandangan-Nya apa yang dinamakan gelap. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak menyerupai pendengaran da penglihatan makhluk, sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai Dzatnya makhluk.

Allah Ta’ala berbicara, memerintah, melarang, menjanjikan, mengancam. Al Quran, Taurat, Injil dan Zabur adalah kitab-kitab-Nya yang turun kepada utusan-utusan-Nya. Allah berbicara kepada Musa dengan perkataan yang merupakan sifat Dzat Allah, perkataan itu bukan satu dari makhluk-makhluk-Nya. Al Quran juga perkataan Allah, bukan makhluk-Nya. Maka Al Quran abadi, bukan sifat makhluk yang bisa rusak.

Tidak ada wujud apapun kecuali Dia yang membuatnya dengan perbuatan-Nya, Dia berlaku adil dengan cara yang paling sempurna. Dia bijaksana dalam perbuatan-Nya, adil dalam putusan-Nya.

Setiap manusia, jin, malaikat, langit, bumi, hewan, tumbuhan, benda mati, yang kasat mata dan yang tak kasat mata adalah sesuatu yang baru yang Dia ciptakan sungguh-sungguh dari ketiadaan dengan kekuasaan-Nya, Dia munculkan sebenar-benarnya semua itu dari yang bukan apa-apa. Sebab Cuma Allah yang ada sendiri sejak awal, tidak ada sesuatu bersama-Nya. Lalu Allah membuat makhluk untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dan untuk menyatakan kehendak-Nya yang terdahulu, untuk menyatakan kebenaran kata-kata-Nya di awal dari segalanya. Allah menciptakan semua itu bukan karena Allah membutuhkan mereka. Dia menciptakan itu semua sebagai kebolehan-Nya dalam mencipta, mewujudkan, dan menentukan, bukan sebagai kewajiban-Nya. Allah membagikan nikmat dan segala kebaikan bukan sebab keharusan. Baginya segala kelebihan, segala nikmat dan pemberian.

Allah membalas kebaikan orang-orang beriman yang taat karena kedermawanan-Nya dan janji-Nya, bukan karena kewajiban  yang harus Dia laksanakan. Sebab tidak ada kewajiban apapun yang harus Allah lakukan untuk siapapun, tidak ada kezaliman dari Allah dan tidak ada hak siapapun yang harus ditunaikan oleh Allah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s