Sunni (Malam Sabtu Ketiga)

Sunni adalah sebutan bagi kelompok mayoritas muslim yang faham keagamaannya mengikuti ahlussunnah wal jama’ah. Ahlussunnah wal jama’ah berarti penganut sunnah Nabi dan sunnah jamaah atau kumpulan para sahabat salaf. Sunni juga mengikuti ijma’ atau konsensus sahabat atau mayoritas ulama dalam menentukan hukum yang tak ada di Quran atau Hadits.

Sunni mengakui bahwa akal mampu menetapkan kewajiban untuk taat kepada Tuhan. Sunni menerima kenabian sebagai awal konsekuensi wajib atau taklif. Diutusnya Nabi sebagai ketetapan di luar diri manusia yang mewajibkan ketaatan dan sebagai saksi atas manusia tentang kewajiban itu. Agar nanti di pengadilan akhirat tidak ada yang berkilah bahwa Tuhan tidak pernah mewajibkan ketaatan manusia kepada-Nya.

Sunni meyakini ada kitab lain sebelum Al Quran yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.

Sunni meyakini bahwa Allah mengutus Muhammad yang berasal dari suku Quraisy untuk Arab dan Non Arab, untuk manusia dan Jin. Artinya Sunni memelihara kesukuan, apapun suku dan tradisi seseorang, untuk menciptakan kemakmuran lahir-batin seluruh manusia dan jin. Inilah yang menyebabkan Sunni selalu berangkat dari lokalitas untuk universalitas. Bukan terjebak dalam lokalitas Arab atau Non Arab, Barat atau Timur. Maka yang terjebak dalam lokalitas Arab atau Non Arab, barat atau timur dipertanyakan kesunniannya.

Sunni meyakini surga dan neraka sebagai tempat yang kekal untuk masing-masing orang-orang yang taat dan menentang Allah. Sunni meyakini sebesar apapun dosa orang beriman, surga masih mungkin menjadi tempatnya sebab kasih sayang Allah.

Sunni melarang kita mengkafirkan ahli qiblat. Termasuk ahli qiblat adalah Syi’ah, Ahmadiyah, bahkan Khawarij dan Wahhabi sekarang. Mengaku Sunni tapi menuduh saudara kita yang Syi’ah atau Ahmadiyah kafir adalah sunni palsu yang mencemarkan Ahli Sunnah wal jama’ah. Mengaku Sunni tapi mudah menyakiti saudara seiman cuma karena beda persepsi adalah sunni palsu yang mencemarkan ahli sunnah wal jamaah

Di antara pokok ajaran Sunni adalah keyakinan bahwa kiamat pasti datang. Dan jangan mengekploitasi Dajjal dan Kiamat untuk kepentingan kelompok. Sunni tidak mengkambinghitamkan kelompok lain dengan tuduhan Dajjal dan tidak sibuk mencari-cari alasan untuk men-Dajjalkan orang.

Sunni percaya bahwa syafaat Nabi itu ada. Dan penghuni neraka boleh mendapat syafaatnya kelak. Mengaku Sunni tapi mengingkari syafaat Nabi dan terlalu percaya dengan ibadah sendiri dan egonya, itu bukan sunni, bukan ahlussunnah wal jamaah.

Sunni mencintai kelompok salaf, bukan salafi. Kelompok salaf adalah sahabat-sahabat Nabi dengan segala sikap kesederhanaan dan zuhudnya. Mengaku Sunni dan mencintai sahabat, mengaku salafi dan kembali kepada Sunnah, tapi korupsi dan gemar menyesatkan orang, itu bukan sunni.

Mengaku Sunni sambil bertepuk tangan dan berusaha menyerang Syi’ah, itu bukan sunni dan itu mencoreng ahlussunnah wal jamaah.

Sunni mengakui bahwa secara berurutan pemimpin utama setelah Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Sunni mengakui bahwa kaum muslim awal secara ijma’ menyebut Abu Bakar sebagai Khalifah Rasul, pengganti Rasul. Sunni menyebut selain Abu Bakar sebagai Amir Al Mu’minin. Penyebutan Khalifah untuk selain Abu Bakar tidak ada ijma’ atau konsensusnya. Sunni percaya bahwa cuma khilafah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali saja yang pantas disebut khilafah/ganti kenabian. Selain itu, tidak!

Maka Sunni tidak mendukung khilafah yang sekarang sedang ramai dari hizbuttahrir dan semacamnya. Karena kezuhudan Khulafa Rasyidin masih jauh lebih mulia daripada khilafah yang ramai dipropagandakan oleh sekelompok orang hari ini.

Kini, kelompok Islam intoleran mencatut nama Sunni atau ahlussunnah wal jamaah dalam segala kepicikan cara beragama intoleran mereka. Menyerang atas nama Sunni. Menghancurkan atas nama mayoritas. Padahal kelompok intoleran ini minoritas, sempalan yang galau!

Sunni meyakini bahwa pahala bisa dihadiahkan kepada orang yang hidup dan mati. Segala kebaikan bisa dikirimkan untuk orang lain. Siapa mengaku Sunni tapi anti solawat, doa, dan tawassul, maka ia sedang bingung dalam ketidakpahamannya. Labil dalam beragamanya.

Sunni mengakui ijma’ atau konsensus umat sebagai dasar hukum ketiga setelah Al Quran dan Sunnah. Termasuk ijma’ adalah tradisi mendoakan orang mati yang berlaku pada masa sahabat hingga sekarang. Maka, mengaku Sunni tapi membid’ahkan tradisi mendoakan dan ijma’ mayoritas muslim, itu kegagalan dalam beragama.

Sunni menghargai qiyas atau penetapan hukum yang belum pernah ada dengan mengambil illat atau alasan hukum yang serupa. Sunni menganggap baik kearifan lokal sebagai satu produk hukum yang boleh diadopsi dan ditetapkan sebagai norma, bahkan undang-undang. Tradisi atau adat bisa dijadikan hukum.

Mengaku Sunni tapi anti tradisi lokal betawi, anti tradisi sunda, anti tradisi jawa, minang, bugis, manado, dan anti tradisi lainnya, itu sunni palsu.

Mari luruskan niat kita dalam beragama dan lengkungkan bibir kita dalam senyum perbedaan yang toleran.

Sunni Islam ramah, bukan islam marah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s