Haji dan Reinterpretasi Ibadah

Sebagian jamaah haji bersiap pulang ke tanah air masing-masing. Mereka harus kembali menghadapi kenyataan masyarakatnya.

Kenyataan masing-masing negara tentu berbeda dengan realitas Arab Saudi. Maka harus ada penafsiran ulang terhadap hikmah ibadah haji.

Kalau fungsi ibadah saja harus di-reinterpretasi, apalagi cuma sekedar bacaan kontemporer yang mempropagandakan potongan Islam.

Gemar membaca itu bagus. Jangan lupa, setelah membaca suatu ide, misalnya, kita harus kembali kepada kenyataan. Jangan mimpi!

Browsing, membaca, dan terpana dengan suatu ide, melongok, bisa mengakibatkan gangguan mental dan janin.

Mental terganggu cenderung memaksakan ide yang dia yakini benar dari hasil browsing dan baca tadi. Dipaksakan kepada masyarakatnya. Seolah kenyataan atau realitas harus tunduk kepada ide. Cyber army meyakini dunia nyata harus tunduk kepada dunia maya.

Gangguan janin yang dimaksud di atas bahwa generasi yang memaksakan ide atas kenyataan itu seperti orang yang terlambat lahir. Ide khilafah atau negara Islam dipaksakan untuk menundukkan tradisi dan kearifan lokal. Hal demikian adalah suatu gangguan mental dan janin yang dimaksud di atas.

Melontar jumrah dipaksakan kepada kenyataan bisa hujan batu di negeri sendiri, ke rumah orang yang dianggap sesat secara sepihak tanpa ada dialog dan klarifikasi dengan dan dari pihak yang dituduh sesat.

Maka, haji dan segenap ibadah, bacaan dan segenap pemahaman harus di-reinterpretasi. Agar tidak menyebabkan gangguan mental dan janin tadi.

Haji adalah sebuah kesadaran tentang kekinian yang tidak akan pernah ada tanpa adanya masa lalu, sejarah, dan tradisi.

Haji adalah napak tilas orang-orang Arab terhadap peninggalan leluhur mereka, Keluarga Nabi Ibrahim.

Haji adalah penghargaan kepada jasa para pendahulu dan kesadaran atas akar sejarah masyarakat Arab terdahulu.

Haji adalah penghormatan orang-orang Arab kepada nenek moyang mereka, generasi asal yang tanpanya kekinian mereka tak akan pernah ada.

Nilai luhur haji kemudian diadopsi oleh Nabi Muhammad, melalui kitab suci, sebagai satu dari rukun atau pilar Islam. Karena dalam haji ada ajaran Islam yang ingin Nabi sampaikan, yakni penghargaan kepada leluhur, kearifan lokal dan tradisi terdahulu.

Jadilah Nabi utusan yang historis. Bukan pendakwa ajaran baru yang ahistoris, antipati terhadap tradisi, apriori terhadap kenyataan.

Nabi adalah pribadi agung yang sangat realistis. Mendamaikan kenyataan yang dihadapi dengan misi yang dibawanya. Bukan membenturkannya.

Kesadaran sejarah, penghargaan terhadap kearifan lokal dan sikap realistis menjadi sangat penting saat sikap ahistoris mulai muncul.

Sikap ahistoris, apriori, anti tradisi dan sejarah muncul dengan berbagai variasi. Satu di antaranya dengan dalih pemurnian agama.

Pemurnian agama ahistoris ini menarik jauh agama ke titik awal peradabannya. Titik yang konteks waktu dan tempatnya jauh berbeda.

Agama puritan jadi memusuhi tradisi Indonesia, memaki sejarah bangsa dan menafikan peran para pendahulu di Indonesia.

Jangankan pahlawan nasional, penyebar agama pertama di Indonesia, seperti Wali Sanga saja dinafikan oleh puritanisme. Dengan dalih pengamalan agama yang ada sekarang penuh dengan bid’ah, mereka memusuhi sejarah Indonesia dan tokoh Islam awal nusantara. Apalagi pahlawan nasional! Sebab satu bentuk puritanisme tidak mengakui nasionalisme. Yang ada hanya Islamisme dengan Islam menurut pemahaman mereka.

Islam menurut mereka lah yang paling benar. Yang lain salah. Sikap khas puritan dalam menghadapi perbedaan.

Jika kepada sesama Islam saja mereka memasang sikap permusuhan, apalagi kepada non muslim. Maka perbedaan agama rentan jadi isu politis.

Gerakan puritan ini amat rentan dimobilisir untuk kepentingan politik. Karena peta pemikiran mereka dan sikap kaku mereka itu mudah dibaca dan gampang ditunggangi.

Lain halnya dengan pemahaman Islam yang luas dan luwes serta sikap yang arif dalam perbedaan. Pasti lebih fleksibel.

Sikap kaku ini juga yang menyebabkan mereka mengira bahwa perjuangan Islam cuma bisa lewat jalur politik praktis. Itu salah besar!

Para penyebar Islam awal tidak melulu mendirikan kekuasaan politis, tapi pendekatan kultural atau budaya yang mereka terapkan.

Wali Sanga contohnya. Para wali ini mengadopsi tradisi Hindu-Budha Nusantara. Kaum puritan lupa akan strategi ini, atau kualat kepada Wali Sanga.

Meyakini bahwa cuma dengan merebut kekuasaan politis Islam bisa diamalkan justru membuat ruang gerak mereka sempit dan tidak kreatif.

Alih-alih berjuang untuk Islam, mereka malah terjebak dalam pemuasan diri dan kelompok atas kekuasaan dan materi.

Jangan heran jika partai atau ormas Islam korup dan mata duitan. Karena politik menjual Tuhan akan membuat mereka jauh dari Tuhan.

Politik menjual Tuhan dan mengkomersilkan agama mendekatkan mereka kepada tuhan mereka: uang, kepuasan, kebencian, kedengkian, dan kekuasaan yang mentang-mentang.

Sikap inilah yang sejak reformasi muncul. Setelah di masa Orde Baru Islam politik dikekang, ia muncul dan terjebak dalam pragmatisme.

Bagaimana sikap mereka kepada non muslim? Terhadap muslim yang beda pemahaman saja mereka bermusuhan, apalagi kepada nonmuslim.

Muncullah penolakan kepada pemimpin non muslim dengan mamainkan dalil agama. Ramailah ejekan-ejekan kepada non muslim.

Juga ejekan-ejekan kepada peribadatan yang dilakukan oleh non muslim. Bahkan kepada Tuhan yang mereka yakini.

Ikuti apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Surat Al-An’am 106. Berpalinglah dari orang-orang musyrik dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dengan memaafkan mereka, menghargai dan menghormati keyakinan mereka. Bukan malah memusuhi, mengolok-olok dan mengejek saudara-saudara setanah air kita yang beda agama.

Marilah kembali kepada Islam Indonesia yang penuh dengan keramahan dan kerukunan serta penghargaan kepada sejarah dan tradisi lokal.

Islam Indonesia yang perjuangannya tidak formalistik, tetapi fleksibel dengan mengedepankan ruh atau spirit agama ketimbang kulit agama belaka.

Islam Indonesia yang memeluk perbedaan dengan hangat dan arif. Memandang kebhinekaan sebagai medan menempa keimanan dan ketawadhu’an.

Islam Indonesia toleran dan damai dengan berbagai macam keyakinan, suku, etnis agama.

Islam Indonesia yang ramah, bukan marah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s