Malam Sabtu Pertama

‘Mauizhatul Mu’minin’ nama buku yang dibahas pada pertemuan malam sabtu bersama teman-teman Immadia. Buku ini merupakan ringkasan dari karya besar Hujjatul Islam Imam Ghazali, yang juga masterpiecenya, Ihya Ulumiddin.

Sedikit tentang Imam Ghazali, namanya dinisbatkan dengan desa Ghazal, tempat kelahirannya. Nama aslinya adalah Muhammad Bin Muhammad, dengan Kunyah Abu Hamid. Imam Ghazali adalah guru besar Madrasah Nizhamiyah, lembaga pendidikan bergengsi abad 10 Masehi.

Kajian Mauzhatul Mu’minin ini berangkat dari keinginan beberapa teman yang pada kenyataan tidak mau cuma berkutat pada pembahasan fiqih, namun masih membutuhkannya. Kitab yang satu ini memang, sebagaimana sumber asalnya, Ihya Ulumiddin, membahas fiqih dengan pendekatan akhlak. Contoh-contoh yang mudah ditemukan di dalamnya antara lain bersuci dan rahasia-rahasia dalam prosesi bersuci, shalat dan rahasia-rahasia dalam shalat, dan masih banyak lagi.

Fiqih tetap jadi pembahasan paling cocok untuk teman-teman sifatnya yang praktis, membahas tentang shalat, puasa dan lain sebagainya. Dan ini lumayan penting saat kita tau  bahwa ada hal-hal kecil yang seringkali luput dibahas padahal unik dan urgent.

Bagaimana caranya seorang makmum masbuq agar tidak sendirian dalam sholatnya sementara semua orang sudah mulai solat dan tidak ada lagi yang tertinggal selain dia? Perlu diketahui, menyendiri dalam shaff hukumnya haram.

Ini ada di keseharian kita dan karenanya fiqih cocok untuk pembahasan teman-teman di sini.

Syarat sahnya setiap ibadah ada dalam kajian fiqih. Sedangkan syarat diterimanya setiap ibadah ada dalam akhlak. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan dengan akhlak. Sasaran akhlak adalah hati. Demikian di samping pembahasan fiqih, tasawuf menjadi sangat penting. Sebagai dua ranah yang harus dilakukan dan damalkan.

Sebelum segala pembahasan masuk kepada bab-bab fiqih, buku ini memulai dengan bab tentang keutamaan ilmu.

Ada banyak teks-teks Al Quran dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan ilmu, keutamaan mengajar dan belajar. Satu di antaranya keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan dengan cahayanya dibanding segenap buntang-bintang.

Kanjeng Nabi Muhammad bahkan menegaskan bahwa jika datang satu hari dan pada hari itu beliau tidak bertambah ilmu yang mendekatkan kepada Allah, maka hilanglah keberkahan sejak pagi hari itu.

Seseorang yang pergi dari rumah untuk menuntut ilmu, sepanjang perjalanannya seluruh penghuni bumi memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang itu.

Satu teks hadits lain menyebutkan, siapa yang pergi menuntut ilmu, lalu meninggal saat menuntut ilmu, dituliskan baginya sebagaimana ganjaran orang yang berjuang di jalan Allah.

Orang yang berilmu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Kesaksian orang berilmu ini disejajarkan dengan kesaksian para malaikat. Kesaksian orang berilmu Allah reken, Allah anggap penting dan benar.

Jika seorang anak taman kanak-kanak menyebutkan dengan serius bahwa ada kecelakaan, mobil minibus menabrak mobil tangki pembawa bensin di pom bensin Pondok Indah, kesaksian ini bisa benar. Peristiwa yang sama disebutkan oleh seorang dosen. didengar orang. Kesaksian anak taman kanak-kanak jelas berbeda dengan kesaksian dosen. Dan ada yang paling penting dan paling layak dianggap atau direken sebagai kesaksian yang/benar dan sunggguhan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s