Sebagian dari Iman

Kita mungkin sering mendengar istilah ‘kebersihan itu sebagian dari iman’, atau ‘malu itu sebagian dari iman’, dan masih banyak lagi. Jadi, sebenarnya iman itu ada berapa bagian? Iman dibagi berapa bagian hingga yang tampak kecil seperti senyum misalnya, juga bagian dari iman?

Paling tidak iman mempunyai lebih dari 70 bagian. Bagian-bagian itu ada yang berupa kewajiban, ada yang berupa keharaman.

Aktifitas agama kita atau yang  biasa disebut amal bisa berupa perintah yang menuntut dilakasanakan, bisa berupa larangan yang menuntut ditinggalkan.

Perintah ada yang sifatnya wajib dan tak boleh ditinggalkan, ada yang sifatnya sunnah yang tak apa-apa jika ditinggalkan.

Larangan ada yang sifatnya haram dan wajib ditinggalkan, ada yang sifatnya makruh yang jika tetap dikerjakan tidak apa-apa.

Tujuh puluhan bagian-bagian iman yang dimaksud adalah perintah wajib dan larangan haram.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tiga saja bagian iman, yaitu ikhlas, sayang kepada makhluk Allah, dan tawadhu’.

Ikhlas itu memurnikan. Ikhlas itu murninya niat hanya karena Allah dalam  melakukan atau meninggalkan suatu perkara.

1. Ikhlas sebagian dari Iman.
Ikhlas meniscayakan sikap menjauhi riya’ atau pamer dalam amal atau aktifitas kita. Seorang yang ikhlas melakukan aktivitas apapun cuma karena Allah, bukan karena ingin dipuji, popularitas atau kepentingan rendah lainnya. Banyaknya perselisihan yang menjurus kepada pertikaian disebabkan segala aktifitas dan sepak terjang hidup kita di dunia bukan karena Allah, tapi karena tujuan yang berbeda-beda. Karena tujuan itu adalah kepentingan masing-masing, maka perbedaan kepentingan yang disebabkan niat yang buruk cepat sekali mengarahkan kepada pertengkaran yang merusak hubungan antar sesama manusia.

Ikhlas juga meniscayakan sikap menjauhi  kemunafikan atau hipokrisi. Seorang yang ikhlas tidak mungkin munafik. Kemunafikan itu menampakkan sikap tunduk kepada Allah di luar sedangkan dalam hatinya ada pertentangan-pertentangan batin yang mengajak diri orang munafik untuk melanggar apa yang ia tampakkan dalam lahiriahnya. Tampak luarnya ia berjubah, bersorban, santun, jujur, tapi batinnya selalu mencari kesempatan untuk mengingkari jubahnya, sorbannya, sanntunnya, dan kejujurannya.

Semua manusia itu akan hancur kecuali orang yang berilmu. Orang berilmu akan hancur kecuali orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. Orang berilmu yang mengamalkan ilmunya akan hancur kecuali mereka yang ikhlas. Betapa pentingnya ikhlas sebagai ruh dari segala amal, jiwa dari semua aktifitas lahiriah kita.

2. Lembut kepada makhluk Allah sebagian dari Iman.
Belakangan ini kita sering melihat orang yang mengaku beriman, mengaku sebagai pembela Islam tapi kenyataannya sangat kasar dan bengis kepada sesama manusia. Bahkan cenderung merusak apa saja. Mereka dan kita yang masih mengidap sindrom kebengisan ini perlu melihat kembali ke dalam hati kita. Apakah benar kita beriman jika terhadap sesama manusia kita kerap saling menyerang dan menyakiti?

Kanjeng Nabi pernah berkata, “Tak akan masuk surga kecuali orang penyayang.” Para sahabar menanggapi, “Kami semua penyanyang, wahai Rosul.” Kanjeng Nabi memastikan, “Yang disebut penyanyang bukan mereka yang cuma menyayangi sahabatnya, tertapi mereka yang menyayangi setiap manusia.”

Jelaslah di sini, kita yang mengaku beriman dan mengaku muslim harus menyayangi makhluk Allah, siapapun itu. Karena mereka adalah hamba-hamba Allah. Meskipun mereka durhaka kepada Allah, tidak boleh kita berhenti menyayanginya. Sekalipun mereka menentang Allah, bukan alasan kita tidak menyayanginya, apalagi membencinya.

3. Tawadhu’ sebagian dari Iman.
Ada limpahan kebaikan dalam Tawadhu’ atau rendah hati.Tentu kita ingat dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk adalah kesombongan. Makhluk semulia Iblis yang sudah mencapai tahap malaikat muqarrabun bisa jatuh hina cuma karena satu kesalahan: tidak tawadhu’.

Dalam tawadhu’ harus ada dua sikap, yaitu mau mengenal dan menghormati kemuliaan orang yang lebih dewasa dan menyayangi dan mengasihi orang yang lebih muda. Dua sikap ini harus ada. Seseorang mengayomi yang lebih muda tapi tak mau mengenal dan memuliakan orang yang lebih dewasa darinya tidak dinamakan orang yang tawadhu’. Seseorang yang pandai memuliakan orang yang lebih darinya tapi tidak sayang kepada dan cenderung gila dihormati oleh yang lebih muda juga belum bisa disebutkan orang yang tawadhu’.

Terkait dengan tawadhu’, berhati-hatilah dari hasrat dan keinginan keras untuk dihormati orang. Waspadalah jika kita senang jika orang-orang berdiri saat kita datang di suatu tempat demi menghormati kita. Jika kegemaran dihormati ini dibiarkan, hilanglah sikap tawadhu dan pintu untuk kesombongan terbuka lebar bagi kita. Dan kita semakin hina saat orang-orang justru memuliakan kita.

Seorang sufi besar Muhyiddin Ibnu Arabi, peletak konsep wahdatul wujud, pernah suatu hari berdiri untuk menghormati kedatanyan seorang ulama yang dikaguminya. Saat ulama itu berpapasan dengan Ibnu Arabi, ia menyuruhnya duduk.
“Duduklah! Jangan berdiri karena aku datang. Sesungguhnya hal ini dilarang.”
“Wahai Syaikh yang aku hormati,” kata Ibnu Arabi, “Larangan itu untukmu dan untuk orang-orang yang kerap dimuliakan agar tidak terjerumus dalam kebanggaan dan kesombongan lantaran dimuliakan orang banyak. Tidak ada larangan untukku yang ingin memuliakan orang yang aku tau kemuliaannya.”

Ulama itu kagum dengan jawaban Ibnu Arabi.
Tawadhu’ berarti memuliakan yang mulia sekaligus mengayomi yang perlu diayomi.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s