Sembahyang dan Solat (catatan jumat)

Untuk mengetahui lebih jauh seseorang, mungkin saya atau Anda, seringkali harus curiga. Kecurigaan saya bermula dari penggunaan kata sembahyang yang kerap diletakkan lebih rendah daripada kata solat. Beberapa orang dengan alasan tertentu memandang bahwa solat itu bukan sembahyang dan sembahyang itu bukan solat. Sebuah cara pandang khas kelompok yang terkurung dalam tekstualitas.

Teks memang penting. Sebagaimana pentingnya peristiwa, teks memiliki peran yang cukup banyak untuk membahasakan banyak peristiwa agar diketahui oleh banyak orang. Namun keterkurungan dalam teks, atau bunyi-bunyi bahasa juga bahaya lain yang seharusnya bisa kita hindari.

Solat itu doa. Doa itu ibadah. Ibadah itu penghambaan. Penghambaan menuntut perilaku menyembah. Menyembah dalam satu istilah disebut sembahyang. Maka solat sama dengan sembahyang. Semua pembedaan istilah ini bisa kita telusuri lagi lebih jauh pada banyak kata yang digunakan di masyarakat.

Gusti Alah dalam dialek Jawa, atau Gusti Aloh dalam dialek Sunda diucapkan oleh orang Muslim. Dan Muslim Sunda atau Jawa yang mengucapkan sama sekali tidak merujuk Tuhan lain dalam pikirannya. Apa yang mereka maksud dengan dialek khas daerahnya adalah Allah sebagaimana Allah yang diucapkan oleh orang-orang yang sudah faseh dalam menlafazkannya.

Di beberapa daerah Jawa, seorang Kiai kerap juga disebutkan dengan panggilan Romo Yai. Tidak beda dengan sebutan untuk seorang Pastur dari kalangan Kristiani. Apa yang mereka sepakati dalam bahasa dan mereka ucapkan dalam keseharian berlaku hampir secara alami, ramah dan tanpa paksaan.

Akhir-akhir ini muncul ekslusifitas penggunaan istilah keagamaan tertentu yang membeda-bedakan apa yang sebenarnya masih sama. Orang Islam harus menggunakan istilah solat. Orang selain Islam silahkan sembahyang. Orang islam lebih gagah menggunakan istilah mushalla, dan ogah lagi menggunakan sebutan langgar atau surau untuk rumah ibadah sederhananya.

Ada barisan kecurigaan saya terhadap perilaku bahasa dari orang-orang Islam itu sendiri. Sebagaimana ada kecurigaan saya terhadap busana muslim yang mulai diseragamkan menganut kiblat negri Islam tertentu. Padahal kerudung nenek-nenek kita, kain sarung kakek-kakek kita juga memiliki fungsi sama: untuk menutup aurat dan keindahan yang sesuai dengan daerah Indonesia.

Baiklah. Kita mulai saja tentang Solat, satu ibadah pokok dari banyak ibadah dalam Islam. Solat, seperti telah saya singgung di atas, berarti doa, ajakan, permohonan. Sedangkan menurut istilah fiqh, adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dengan Takbir Ihram dan diakhiri dengan Salam dengan syarat-syarat tertentu.

Solat adalah ibadah pokok. Karena siapa yang baik solatnya maka seluruh perbuatan selain solat pasti akan baik. Jika ini kita kaitkan dengan sembahyang, maka siapa yang baik sembahyangnya maka seluruh perbuatan selain sembahyang akan baik pula.

Sembahyang dalam keadaan berdiri tegak menghadap ke arah tertentu, ke artal, kiblat atau apapun berarti menghadapkan wajah si pelakunya ke arah yang telah ditetapkan. Wajah lahiriah yang ada di badan, disangga dengan leher, menghadap ke kiblat atau altar. Maka wajah batin yang ada di dalam diri, wajah hati hendaklah dihadapkan kepada Tuhan saja. Bukan kepada selain-Nya. Ini satu sikap fokus dalam sembahyang. Maka di luar sembahyang, orang yang sembahyang tadi, orang yang solat tadi seharusnya fokus perbuatan lahiriahnya kepada pekerjaan yang sedang ia tekuni. Dan Perbuatan hatinya, wajah hatinya, fokus hatinya cuma kepada Tuhan saja.

Menjadikan fokus dalam sembahyang sebagai sikap fokus juga di luar sembahyang itulah yang menjamin bahwa siapa yang sembahyangnya baik, maka baiklah seluruh perbuatannya.

Dalam solat, sembahyang dalam Islam, di awal seorang hamba telah berikrar dengan Iftitah, atau Istiftah. Sebuah Ikrar pembuka. Ikrar ini menguatkan kembali posisi penghambaan pelakunya. Orang yang solat berikrar bahwa ia hadapkan wajah badannya dan wajah hatinya kepada Tuhan Pemelihara semesta. Ia lakukan fokus menghadap ini dengan keadaan hanif, yakni cenderung kepada kebaikan. Amat mengherankan jika kecenderungan kepada kebaikan yang ia ikrarkan dalam solat berubah jadi kecenderungan kepada keburukan di luar solat.

Menjadikan kecenderungan kepada kebaikan atau hanif dalam sembahyang menjadi kecenderungan yang sama di luar sembahyang itulah yang menjamin bahwa siapa yang sembahyangnya baik, maka baiklah seluruh perbuatannya.

Selain cenderung kepada kebaikan atau hanif, orang yang solat juga berikrar dalam keadaan Muslim. Muslim dari akar kata ‘Salima’ yang berarti selamat. Maka seorang muslim adalah orang yang memberikan keselamatan. Dalam satu Hadits, “Orang muslim adalah seorang yang orang-orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” Tapi perilaku pelaku solat di luar solat yang sering melukai sesama, menyakiti orang lain, membahayakan banyak orang bisa terlahir sebab ikrar yang diucapkan dalam solatnya, salam sembahyangnya adalah ikrar abal-abal. Sebuah ikrar hafalan yang membosankan.

Menjadikan kecenderungan kepada kebaikan atau hanif dalam sembahyang menjadi kecenderungan yang sama di luar sembahyang itulah yang menjamin bahwa siapa yang sembahyangnya baik, maka baiklah seluruh perbuatannya.

Sembahyang yang benar-benar benar amat berat kecuali bagi mereka yang khusyuk. Maka hadapkan wajah hatimu cuma kepadaNya.Sembahyang yang benar-benar benar bukan cuma kesalehan individual, tapi juga kesalehan sosial yang manfaatnya menyebar ke banyak orang. Kesalehan sosial dari menghadapkan wajah hati, hasrat, ingin di seluruh laku hidup cuma kepadaNya. Bukan pamrih kepada selain-Nya.

Betapa banyak yang sembahyang, yang solat, tapi ritual kesalehan personal-individual itu tak bisa mencegahnya berbuat curang dan kejam pada sesama. Sebab di luar sembahyang, di luar solat, ia hadapkan hati, hasrat, inginnya kepada kepuasaan diri, nafsu dan kesombongan. Buka kepada-Nya. Jika dalam sembahyang, dalam solat, berikrar hidup dan mati cuma untuk Tuhan, tapi di luar sembahyang hidup untuk uang? Mati lebih baik.

Untuk tujuan di luar solat, di luar sembahyang, ikrar itu dibuat sedemikian. Agar solat punya dampak bagi kebaikan banyak orang. Ij’alu dakhila solatikum kharijaha, kata Nabi. Jadikan isi solatmu: ikrar, hingga ucapan salam/kedamaian, jadi perilaku di luar solatmu.

Ucapan Allah Maha besar meniadakan besaran-besaran lain. Semua kecil di hadapanNya. Sebesar apapun anggapan kita terhadapnya. Lisan berucap Allahu Akbar, tapi dalam hati masih ada hal selain Allah yang menyita perhatian, itu sebuah kebohongan besar. Lisan berucap Allahu Akbar, tapi dalam hati masih ada keakuan yang merasa paling benar, itu juga satu bentuk kebohongan besar.

Tuhan Maha besar. Maka di luar sembahyang, di luar solat, semua manusia itu sama. Hamba-hamba yang berlomba untuk menjadi paling berguna.

Sembahyang, solat, harusnya mencegah perbuatan kejam dan buruk. Tapi kepalsuan lisan dan kealpaan hati memandulkan fungsi solat hakiki. Terus sembahyang, terus solat. Tapi menyakiti orang lain jadi hobi. Tapi fasih berdalil tak bisa mencegah diri sendiri dari korupsi.

Sollu kama ra-aitumuni usolli. Solatlah sebagaimana aku solat, kata Nabi. Nabi solat dan di luar solat jadi pribadi yang paling solat. Nabi solat dan solatnya melahirkan perilaku mulia di luar solat: lembut kepada manusia, adil, santun, tidak mencuri dan korupsi.

Mungkin Yesus dari Nazaret, Sidharta Gautama, Konfusius melakukan hal sama. Sembahyang dan sembahyangnya melahirkan kebaikan untuk manusia. Hanya saja Nabi lugas, ‘sebagaimana aku sembahyang’ sampai pada kepastian bahwa solat melahirkan perilaku paling mulia. Dan kita seharusnya juga bisa meneladani ini. persoalannya, saat ini kita kaya nasehat dan motivasi. Tapi miskin figur yang layak diteladani.

Misi agama menyempurnakan akhlak. Bukan memproduksi aturan syariat. Syariat, sesuai artinya (jalan) cuma cara untuk menyempurnakan akhlak. Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim. Sungguh kau pada perilaku yang agung, firman Allah. Perilaku agung lagi mulia kepada Tuhan dan kepada manusia.

Mari kita tengok sejenak figur teladan ini. Nabi itu lembut, sebab rahmat Allah. Jika Nabi kasar, kejam, batu hatinya, tentu tak ada yang mau masuk Islam dan ikut membela Islam. Mari kita ikuti contoh dari beliau. Alkhairu kulluhu fittiba’irrasul. Kebaikan seluruhnya ada dalam mengikuti Rosul. Nabi menjadikan isi solatnya implementatif di luar solat.

Betul Nabi berjenggot, berjubah, bersorban, mungkin juga tanpa kumis, tapi hampir seluruh lelaki Arab seperti itu, termasuk Abu Jahal. Maka jenggot, jubah, sorban tradisi Arab kala itu. Bukan itu yang kita tiru. Tapi tirulah Nabi dalam semangatnya menghargai tradisi.

Nabi tidak tampil beda dengan pakaiannya. Tak menjadi orang asing di masanya. Nabi tetap jadi orang orab yang menghargai tradisi. Dengan semangat meniru Nabi yang menghargai tradisi lokal, Wali Sanga dan para Kiai tradisional menjunjung tinggi tradisi lokal Nusantara.

Mencampakkan tradisi, mengkafirkan, atau menganggap suatu tradisi sesat bukan akhlak Nabi. Karena Nabi diajarkan Allah untuk membumi, memahami dan memahami tradisi lokal yang berlaku saat itu. Al’adatu Muhakkamah. Adat/tradisi bisa dijadikan hukum. Meskipun tidak harus. Dan menjaga tradisi yang layak adalah sebuah kearifan.

Qishas, potong tangan pencuri, rajam atau cambuk untuk pezina adalah adat lokal Arab yang sudah ada sebelum Islam. Lalu dengan kebijaksanaan Allah mengadopsi menjadi hukum dalam Al Quran. Alangkah pentingnya kearifan untuk menghargai tradisi lokal!

Syariat itu jalan. Tuhan itu tujuan. Jangan lupakan tujuan, seasyik apapun perjalananmu. Keliru jika meneladani Nabi dengan meniru lahiriahnya tapi lupa konteks waktu-tempatnya, lupa semangat Nabi dalam mencermati konteksnya.

Betul Nabi melarang pakaian melampaui mata kaki, celana ngatung, eh.. Nabi tidak pake celana ngatung, bukan ngatungnya yang ditiru! Pakaian melampaui mata kaki dengan kesombongan dilarang. Bukan ngatungnya, tapi melenyapkan kesombongan yang jadi substansi.

Pakaian melampaui mata kaki dengan rendah hati itu lebih baik daripada celana ngatung dengan kesombongan diri.

Betul Nabi berjenggot. Bukan jenggotnya yang diteladani, tapi kelayakan, kepantasan zaman dan tempat, dan tentu keindahan dan kerapihan.

Nabi Arab asli dalam tradisi sekaligus orang asing dalam perilaku, dalam akhlak, langka dan jarang orang Arab yang seperti Nabi. Ibarat batu, Nabi adalah akik. Akik adalah batu, tapi tidak seperti umumnya batu.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s