Jalan Pulang

image

Kamar gelap. Cuma lampu pendingin ruang dan bara rokok yang kuhisap. Pengap.

Jalan terang. Sisa hujan memantulkan benderang. Bulan bersinar bimbang.

Dari kaca yang tetap tertutup rapat, aku melihat kauberdiri di pinggir aspal yang hitam berkilat.

Enam atau tujuh kali lewat rombongan. Iring-iringan kendaraan iklan. Tulisan di kendaraan paling depan dan paling belakang kelihatan menjanjikan
:menuju jalan pulang

Penumpang di barisan tengah rombongan mengajakmu ikut ke dalam. Sebagian dengan kelembutan. Lebih banyak dengan sorak-gertak seorang pejuang.

Mungkin bagi mereka mengajak orang adalah perang. Melawan yang tak mau ikut dalam satu iring-iringan.

Dingin kamarku dapat merasakan panas yang menjilat kendaraan mereka sendiri. Emosi yang coba disembunyikan tampak mendominasi. Jalan mereka menuju sangsi.

Kau bimbang. Menatap sesekali ke jendela gelap kamarku. Menahan marah setiap kali mereka meneriakimu. Tapi kau tak punya kendaraan kecuali kaki yang kian kaku. Semakin beku saat kau tau bahwa di dalam kendaraan begitu banyak pedagang mengasongkan kebenaran dengan hadiah surga.

Bulan bersinar bimbang. Matamu terpejam ulang. Dengan bekal emosi dan kecongkakan berjalan, sampaikah kita semua kepada jalan pulang? Sampaikan. Duh, sampaikan.

Kebayoran, 241112

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s