Untuk Para Pendoa

suatu kali seorang laki-laki muda berdiri merenung di depan ruang ICU sebuah rumah sakit. tatapan matanya tertuju kepada sosok anak kecil yang terkulai lemah di salah satu ranjang perawatan. segala peralatan medis berikut selang-selang dan tabung-tabungnya melengkapi pemandangan ini. pandangan laki-laki itu penuh harap atas kesembuhan anak kecil yang ternyata adalah putra pertamanya.
tiba-tiba ia meraih telepon genggam dari salam saku bajunya. dia pencet tombol pemanggil dan tersambung. diangkat. suara dari sana belum sempat menyapa namun laki-laki itu lebih dulu menyeru, “halo, bagaimana? apa sudah ada pak ustadz?”
“belum pak. pak ustadz sedang ada acara tabligh di luar kota. ia tidak bisa hadir ke rumah kita,” jawab suara di sana.
“terus siapa yang memimpin pembacaan doa dan alqur’an untuk sheilla?”
laki-laki itu panik menyebut anaknya yang sedang koma di ICU.
“ada aki amar. ia bersedia memimpin pembacaan doa di rumah.”
“ya. siapa saja lah yang penting sheilla juga butuh doa. tidak hanya perawatan dokter saja.” laki-laki itu menutup teleponnya.
aki amar adalah pria tua yang biasa membersihkan masjid. orang-orang semua tau bahwa aki tidak fasih dalam membaca alqur’an. doa-doa yang ia hafal juga hanya doa umum yang biasa, bukan hizib, bukan doa wirid dan zikir tertentu yang dimiliki ustadz-ustadz kondang.
acara pembacaan doa dan alqur’an pun dimulai di rumah. di tempat lain, di sudut ICU ayah sheilla menunggu anaknya dengan terus berharap dalam hati akan turunnya suatu keajaiban.
sheilla sudah 3 minggu di ruang ICU. tidak ada perkembangan pada kesehatannya. bahkan dokter dengan halus terus menasihati keluarga agar terus bersabar. karena harapan ada, namun amat tipis. ayah sheilla sibuk dengan peristiwa sebulan lalu saat pertama kali sheilla diantar ke rumah sakit. terus merenung dan berharap.
tiba-tiba mata sheilla yang selalu terpejam kini terbuka. ia seperti mengucapkan kata-kata, ayah. sang ayah begitu senang. ia pegang tangan anaknya dengan lembut.
singkat kata, setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh aki amar keadaan sheilla membaik. pulih dan sehat kembali.
teman-teman, doa yang diucapkan dengan fasih dan lancar dari seorang kondang yang penuh pamrih duniawi tidak akan sampai pada Allah. karena bukannya merasa butuh kepada Allah, namun si pendoa malah terpesona dengan fasihnya bacaan dirinya sendiri. terpesona dengan lancar dan terpukaunya hadirin dengan doanya. terpesona dengan sanjungan dan popularitas.
namun doa seseorang seperti aki amar langsung Allah terima. karena doa itu keluar dari hati yang ikhlas, hati yang butuh kepada Allah, hati yang merendah. meskipun aki amar tidak fasih dalam melafazkan doa. meskipun ia tidak banyak menguasai ilmu agama.
semoga kita tergolong orang-orang yang ikhlas, butuh dan merendah kepada Allah. ya, hanya kepada Allah.

Jakarta, 161410

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s