Puisi cinta

Ia memanggil-manggil sebuah nama

Pelan namun nyata

Dalam hening malam
Pada riuh siang

Tak sisakan ruang untuk berpeluk
Dengan selain pelupuk yang basah
Dengan resah

Ialah cintamu

***
Seperti kerikil
Seloroh mungil
Dan bisik orang kecil
Menggunjingku yang tak tampil
Di helat kasih para kurcaci

Aku pecinta sejati
Tak dengan batu menghujani
Kurcaci tertawa
Senyumku merekah
Menebar cinta
Untuk yang tertawa

Dari cintamu
Kuatkan diri ini mencinta
Walau musuh yang mendendam
Ku tetap mencinta

Bangkitlah jiwa yang kering
Tebarkan benihku di hati rungsing
Benih lewat nyata cinta kita
Dahulu dan lusa

Terpatri aku
Mencintamu

***
Tawa camar menangkapp harapku padamu satu seutuh alam yang terwujud di setiap makna manusia
Kepak sayapnya menampahi harubiruku
Dalam cinta abadi

Seekor darinya berujar,
“Cinta tak hanya di sini. Namun di singgasana nanti, akan kau bersanding dengannya.”

Lalu ia ajariku menari dalam khusyuk
Tertawa dalam tangis
Bermakna dalam jelaga
Bahagia dalam duka

Rangkaikan cintaku untukmu
Nanti atau kapanpun
Ku tak sangsi
Ku tak perduli
Hanyamu saja

***
Retak hatiku menyalin luka
Tak berarti diam terpana
Selama kau tersimpan rapi
Di sudut hati ini

Dan lembayung menyelami hari
Belum tampak beralih
Meski tak bias tidak
Pasti kelak menghentak

Sudut mata ini mencipta
Sungai aliran cinta
Mengalir tangis sekian lama
Menuju lembah di ceruk pipi yang merah merana

Jadikan aku bahagia tanpa tepi
Tidak juga mengingkari
Hadirnya cinta lain di hati

Biarkanku mendekapmu keras
Dan tak ku lepas

 

Jakarta, 030610

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s