Nanti atau Mati

Aku menemui yang mulai luntur

Bulu kuduk yang dahulu merinding

Digantikan tatap mata dan seringai bibir

Warna gagah sakti menjadi gagahi dan sakiti

 

Pemimpin cuma urus usus dan seputar anus

Prajurit hanya berani pada bangsa sendiri

Yang dipilih memilih untuk silih berganti

Plesiran seperti sebuah kewajiban

 

Rona wajahmu meranum indah masih memendam

Ibu, di sini ada penantian atau pematian rasa

Sekedar kebal menahan derita yang setiap mata

Memejam

Tak juga hilang

 

Malam ini, bulan memperdengarkan tangis yang terpantul

Di lubang serangga dalam basah yang menanti mati

 

Kebayoran, 22 Oktober 2010, 22:36

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s