Nabi Jirjis dan Para Kekasih Allah

dalam islam kita mengenal istilah waliyyullah. adapun pada kurun waktu sebelum diutusnya rosulullah, waliyyullah yang mempunyai arti kekasih Allah tidak populer penyebutannya. menurut beberapa pendapat ulama, sebelum masa islam para Nabi yang bukan Rosul (baca: orang yang mendapat wahyu dari Allah namun hanya untuk dirinya sendiri, tidak dibebankan kewajiban untuk menyampaikan kepada ummatnya) adalah para waliyyullah. derajat para wali adalah satu tingkat di bawah Rosul. sebuah derajat yang disebut dengan derajat para shiddiqqun.

tersebutlah seorang Nabi (bukan Rosul) dari kalangan Israil bernama jirjis. Dia hidup di masa kekuasaan seorang raja yang inkar kepada Allah. di masa pemerintahan raja ini negeri yang dipimpinnya pernah mengalami suatu masa sulit. paceklik, saawah tidak panen karena kemarau yang memanjang.

datanglah sang raja kepada Jirjis. “Sampaikan pada Tuhanmu wahai jirjis, turunkan hujan sekarang juga,” kata sang raja pongah.

“Itu kalimat berat yang tidak bisa saya sampaikan tuan.”

“sampaikan, atau kami akan menyakiti-Nya dengan cara yangt dapat dilihat oleh semua orang,” jawab raja

malam harinya Jirjis bermunajat kepada Allah. Dia sampaikan permintaan sang raja tadi siang. tiba-tiba malaikat jibril datang dan berkata,”sungguh Allah berfirman agar engkau katakan pada raja itu, dengan cara apa ia menyakiti-Nya?”

“baiklah,”sambut Jirjis.

keesokan harinya Jirjis menanyakan kepada raja tadi pertanyaan yang disampaikan melalui Jibril tadi malam.

“kami akan menyakiti-Nya dengan cara membunuh kekasih-kekasih-Nya,” jawab raja,”katakan itu kepada Tuhanmu.”

belum sempat Jirjis bermunajat kepada Allah untuk kali kedua malaikat Jibril jibril datang dan menyampaikan pesan dari Allah, “Allah berfirman agar engkau mengatakana pada raja itu, jangan bunuh kekasih-kekasih-Nya (wali-wali-Nya). Esok Allah akan menurunkan hujan dan  menumbuhkan tanaman untuk kemakmuran negeri.

turunlah hujan selama tiga hari sejak waktu yang dijanjikan. saatnya musim panen dan kemakmuran di negeri sang raja tiba. selang beberapa waktu raja itu datang lagi kepada jirjis.

“jangan kau suruh aku lagi menghadap Allah dengan permintaan yang aku berat memohonkannya,” sela jirjis sebelum sang raja berbicara.

“tidak. aku datang sekarang tidak untuk berperang. aku datang untuk tunduk dan pasrah kepada Tuhanmu. Tuhanku, dalam keadaan iman.”

Dalam sebuah hadis Rasulullah, dikatakan bahwa Allah berfirman “Tidaklah hambaKu terus-menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintanya, aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepadaKu, pasti Aku beri dan bila ia meminta perlindungan kepadaKu, pasti Aku lindungi” (HR. Bukhari).

dari cerita ini dapat kita ambil pemahaman betapa kasih Allah mendahului murkanya. betapa sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Lebih-lebih kepada para kekasih yang hatinya telah Dia tanamkan Cinta-Nya. air mata para kekasih adalah air mata-Nya. luka mereka adalah luka-Nya.

satu lagi pelajaran yang bisa kita ambil, betapa Allah mampu untuk meluluhkan hati seorang yang pongah dan zholim meskipun ia pernah menentang-Nya. Allah berkehendak memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. dan kita sebagai makhluk tidak bisa mengklaim kebenaran hanya karena seseorang pernah durhaka kepada Allah.

wallahu a’lam

Jakarta, 081110

2 thoughts on “Nabi Jirjis dan Para Kekasih Allah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s