Merah Putih Malam Hari

Esok atau tahun depan, aku akan kibarkan merah putih

Sore mendekati malam. Agar ibu pertiwi menyusuinya nyenyak dalam damai

Dan gelap malam menyembunyikan yang tampak pada hari.

Bapak yang menjual anak-anaknya, pangan yang semakin langka,

Mantan aktivis yang gila harta dan orang desa yang tertular

Keserakahan hari pesta. Penasihat jiwa menguras jiwa hingga hampa

Mengisinya dengan hasrat kakus atau

Setumpuk daging bertakaran ruang kencan

 

Esok atau tahun depan, aku akan pancangkan tiang merah putih

Hanya di waktu malam. Agar gelapnya menutupi mata merahnya dan melindungi

Putih hatinya dari hari yang nyeri. Saat wajah terbakar harapan dan lapar belum

Juga hilang. Lalu bapak semakin menjadi dengan senyuman palsunya. Anak-anak

Perempuan menjajakan diri demi pengalaman dahsyat

Kemerdekaan terjaga yang lepas dari tanah tumbuh

Untuk menjadi penurut kepada kebijakan tuan

Wakil-wakil tuhan tuhan

 

Sesekali aku lihat bapak menangis, bernyanyi, berpuisi, memelas di dalam

hari. Lalu tertawa lebar dalam ruang kerja dengan kaki menumpang langit

Menyapu liurnya yang menetes deras menyaksikan tontonan anak-anak

Perempuannya.

 

Menyapu keringatnya di dahi yang tampak penuh keprihatinan

Atau kecemasan anak-anak laki-lakinya yang mulai marah

Membenamkan wajahnya dalam tumpukan spanduk partai dan

Sadar bahwa sejak waktu yang amat lama ia tak pernah

Mampu menangis dengan sebenarnya

 

Esok atau tahun depan, ku simpan saja dalam kamar lengkap

Dengan tiangnya. Hingga pagi tiba dan mentari menggantikan kibarnya

Di siang hari yang nyeri

Jakarta, 180810

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s