Keretaku Mengeja Matahari

Musim libur anak sekolah tiba. Pertengahan Juni yang panas di stasiun Senen dan hiruk-pikuk orang-orang justru memantapkanku ke sana. Aku tak bergeming. Tiba di sebuah kota kecil sebelah selatan Jawa Timur, bermukim di sana untuk beberapa hari, itu yang aku pikirkan.

Seorang teman melepasku yang sendiri di bangku Matar Maja. Tidak ada yang ku kenal di dekat bangkuku. Wajah-wajah sepintas bahagia dan beberapa lama kerap sengsara menemaniku di perjalanan ini.

Lebih sejam,meski aku tidak membawa arloji yang biasa tergelang di tanganku. Tidak juga membawa ponsel yang bisa menunjukkan waktu. Jarak kami pun mendekat. Sekedar mengobrol tentang tujuan masing-masing, pekerjaan, asal daerah dan yang khas darinya. Menurutku hanya perbincangan untuk menunggu saat kami berpisah di tujuan yang berbeda. Selebihnya aku sibuk dengan pertanyaan apa yang akan dan apa yang telah. Semua ku tinggal di Jakarta dan ku gantungkan di sana.

Senja menampakkan karyanya di lampu-lampu jalan, neon-neon gedung dan rumah tinggal serta di langit terdekat dari jendela gerbongku.

Beberapa dari kami mulai lelah digelayuti letih siang tadi dan dibelai angin lembut celah jendela gerbong. Aku membaca majalah yang biasa ku baca sambil sesekali menerawang mencari pemahaman. Kereta adalah kendaraan yang tak mungkin ku tempati selamanya. tubuh adalah kendaraan yang sekonyong-konyong bisa terhempas dipaksa jiwa yang tiba pada masa. Tiba pada tujuan yang pasti.

Sesaat aku mengingat Pemilik tubuh, Pemilik jiwa. Jiwa yang tenang turun dari kendaraan tubuh dengan senyum. Meninggalkannya untuk menuju Pemilik. Kembali dengan rindu kepada-Nya dan dirindukan oleh-Nya. Seperti anak yang pulang dari kepergian yang terjaga dari sia-sia.

Sebelum kembali, jiwa yang tenang ada di tubuh, ia tidak terkurung. Ia menjalani ketetapan Pemilik untuk memimpin tubuh dan mengendalikannya dalam setiap gerak, diam, kata, keinginan, dan bersitan lekas agar tubuh tidak tenggelam dalam keraguan dan kebimbangan hingga akhirnya karam dalam kehinaan. Taukah kau apa itu kehinaan?

Jakarta, 131110

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s