>Surat Singkat Pendidikan Nasional

>

Jakarta, 2 Mei 2011
Salam Indonesia! Salam Pendidikan!
Mengharap pendidikan gratis semua jenjang _tanpa bonus jajan di kantin dan wifi pun_ bagi kita anak Indonesia adalah sebuah harapan besar. Jangan lupa, tidak kalah penting gratis uang pangkal, uang bangunan, gratis buku, SPP atau segala pungutan berkedok apapun. Jangan janji saja dibebaskan dati SPP misalnya, tapi ternyata Cuma merubah istilah SPP dengan uang perawatan atau operasional pembelajaran.
Selain itu perlu kiranya merubah paradigma pendidikan elitis, yakni memandang pendidikan sebagai pencetak elit-elit ilmiah yang enggan menyentuh kenyataan ril di masyarakat: Bagaimana mengurangi kemiskinan kota, keterbelakangan daerah tertinggal, mecegah kebohongan dan korupsi, menkontrol penuasa pusat atau daerah yang tidak adil dan banya lagi.
Sudah seharusnya pendidikan diarahkan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengangkat paling tidak perekonomian diri dan keluarga. pendidikan harus bisa membuat makmur.karena dengan kemakmuran seseorang tak akan mudah dimanfaatkan penguasa yang punya kepentingan. sudah banyak org pandai dan komentator. Waktunya berhenti membuat pepesan kosong dan melakuakn apa yg harus dilakukan, yaitu mengangkat harkat hidup dengan ekonomi.
Bagi Penguasa, entah penguasa politis atau penguasa pereonomian masyarakat, yang paling menakutkan adalah anak didik yang mapan secara ekonomi, solid, cerdas dan tidak bergantung kecuali dengan usaha sendiri. kalau anak didik mapan secara ekonomi, cerdas, mandiri, tidak akan mudah direkrut oleh parpol bejat atau ormas macam FPI, FUI, NII, GAPAS dan lain-lain. Anak didik yang sempurna lebih memilih cara bijak, tukar pendapat, dan dialog dalam menyelesaikan masalah.
Mengenai proses mencetak anak didik, sebagai contoh, KH Hasyim Asy’ari tidak menginginkan semua santri jadi ahli agama. namun menjadi apa saja yang mberi manfaat bagi manusia, bukan bagi ormas dan partai.
Dari sini, nyatalah bahwa pendidikan harus menciptakan lapangan kerja, bukan hanya menyediakan tenaga kerja untuk pengusaha dan penguasa. pendidikan harus mampu menciptakan usaha, misalnya kontrakan, bukan malah menjual kontrakan untuk pendidikan tak bermutu.
Dalam keseharian siswa di kelas tentu ada perbedaan, mulai dari latar belakang keluarga, ekonomi, keyainan dan seterusnya. Ini terus berjalan secara harmonis. Alhasil pendidikan membuahkan sikap toleransi terhadap perbedaan, karena pribadi terdidik memaklumi kesenjangan pemahaman dan bahkan perbedaan keyakinan. pendidikan memerdekakan diri sendiri dari kepentingan murahan dan menghargai kemerdekaan orang lain serta kebaikan bersama meskipun dalam perbedaan. muatan pelajaran yang sarat dengan keindonesiaan harga mati untuk pendidikan nasional sebagaimana NKRI adalah harga mati untuk kehidupan kebangsaan. pendidikan nasional harus membentengi dari pelatihan, liqo, training, halaqoh, atau apapun yang mencoba merobek merah putih dan keindonesiaan. pendidikan harus mencegah dari mental mengemis kepada kekuasan. pendidikan harus mencipta manusia yg berdaulat dlm dirinya sendiri. pendidikan mesti menjadi semacam kekuatan yang menakutkan bagi kekuasaan korup dan hipokrit, atau kekuasan terpaksa harus adil dan jujur mengikuti kebenaran.
Yang terakhir juga terpenting, pendidikan semestinya membuka pikiran, melapangkan dada, dan memandang jauh ke depan untuk kebaikan kemanusiaan.
Salam!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s