>Keinginan dan Akal

>ada banyak definisi tentang keinginan. setiap orang dengan latar belakang yang berbeda mendefinisikan keinginan dengan pengertian yang berbeda pula. lain motivator, lain pula mubaligh, dalam mendefinisikannya pada penjelasan. namun orang bijak, sebagaimana disitir oleh iwan fals dalam lagunya mendefinisikan: keinginan adalah sumber penderitaan.
Rob’iah Al Adawiiyyah sang sufi agung wanita didatangi Hasan Al Bashri. tokoh sufi ini mendatangi Robi’ah setelah beberapa waktu Robi’ah ditinggal wafat suaminya. ia datang untuk melamar dan menikahi sufi wanita ini. saat Hasan Al Bashri dan beberapa orang muridnya sampai di muka rumah Robi’ah, ia mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam rumah. dengan tetap berbicara di balik tirai, Robi’ah bertanya kepada Hasan, “Ada tujuan apa tuan yang mulia datang ke rumah saya?”
“saya bermaksud melamar dan menikahimu,” jawab Hasan.
“ada beberapa pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiranku. jika tuan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka saya boleh menjadi milik tuan,” kata Robi’ah tegas.
“Jika Allah mengizinkan, saya akan menjawab pertanyaanmu.”
“apakah tuan tau jika saya mati, meninggalkan dunia ini, apakah saya keluar dari kehidupan fana ini dengan selamat ataukah saya termasuk orang yang celaka?”
“itu perkara ghaib, hanya Allah lah yang tau perkara ghaib,” sahut Hasan
“baiklah. jika nanti munkar dan nakir datang ke dalam kuburku, apakah aku bisa menjawab pertanyaannya ataukah aku akan disiksa karena tak mampu menjawab?” tanya Robia’ah kedua kali.
“itu juga perkara ghaib. tak ada yang tau perkara ghaib kecuali Allah,” Hasan menanggapi.
“kali ini, apakah kau tau saat dibagikan buku catatan amalku di akhirat, apakah aku menerimanya dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?”
“pertanyaan ini pun gahib. cuma Allah yang tau perkara ghaib,” Hasan masih belum bisa menjawab.
“yang terakhir tuan, ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, sebagian digiring ke surga sebagian ke neraka. di mana kelompok mana aku berada pada hari itu?” tanya Robi’ah yang keempat.
“itu pun perkara ghaib. hanya Allah yang tau semua itu,” Hasan menimpali.
“bagaimana mungkin perkara yang begitu besar ini memalingkan kita kepada keinginan-keinginan?!”
suasana menjadi lebih hening. orang-orang yang ada di tempat itu sibuk dengan perenungan. ada nuansa takut di ruang itu.
tiba-tiba Robi’ah memecah keheningan, “wahai tuan, berapa bagian Allah mencipatakan akal?” tanya Robi’ah.
“sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada laki-laki dan satu bagian Allah berikan kepada perempuan,” jawab Hasan.
“berapa bagian Allah menciptakan keinginan (syahwat)?”
“sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada perempuan dan satu bagian Allah berikan kepada laki-laki.”
“wahai tuan, saya bisa mengendalikan sembilan keinginan dengan satu akal yang Allah berikan kepada saya. kenapa tuan tidak bisa mengendalikan satu keinginan dengan sembilan akal yang sudah Allah limpahkan kepada tuan sebagai laki-laki?” tanya Robi’ah tenang namun tegas. Hasan Al Bashri menangis. juga seluruh yang hadir di tempat itu meneteskan air mata. rombongan pun pamit pergi dengan perenungan yang semakin menghunjam hati.
semoga Allah memeberikan kita pertolongan-Nya untuk mengendalikan keinginan-keinginan selain Allah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s