Ramadhan Akhir Zaman

Dahulu saya menduga bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkahyang di antara berkahnya adalah banyaknya makanan berbuka dari berbagai macamjenis kuliner. Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah ada jauh sejak masalampau dan tidak hanya di Indonesia. Seolah Ramadhan memang mengizinkanpemberian keistimewaan bagi orang-orang yang berpuasa di siang hari untukmenikmati makanan di malam hari dengan hidangan yang pada bulan selain Ramadhanjarang ditemui.

Salah satu tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertaqwa. Ini bisa terbentuk hanya jika kita memahami spirit dan jiwa sesungguhnya yang ada pada puasa. Spirit dan jiwa puasa adalah meminimalisir makanan yangmasuk ke dalam perut kita.

Makanan yang halal dalam dirinya dan dalam cara memperolehnyaseperti obat. Ia bisa bermanfaat kalau dikonsumsi sekedarnya. Namun jika telalubanyak maka ia berubah menjadi racun untuk tubuh kita. Overdosis dan membuat iajustru kontra produktif dan malah merusak tubuh kita. Demikianlah puasamengendalikan konsumsi makanan halal secara berlebihan pada diri kita. Lalu bagaimanadengan tradisi di atas? Sah-sah saja menurut perspektif fiqih, karena fiqihhanya mensyaratkan sahnya puasa dengan batas termudah untuk orang umum. Dan puasadengan tradisi di atas hingga di malam hari perut kita kenyang dengan berbagaimacam hidangan adalah puasa orang umum. Dandalam takaran puasa ini, kiranya membentuk pribadi yang bertaqwa sebagai tujuanpuasa masih jauh dari titik sasaran.

Puasa yang bisa membentuk pribadi bertaqwa adalah puasa yangmemenuhi syarat fiqih dan memenuhi pembiasaan terhadap enam sikap, yaknimenundukkan pandangan dari hal makruh dan tercela; menjaga lisan dari banyakbicara, bohong, ghibah, adu domba, serta dosa lisan lainnya; menutuppendengaran dari menyimak obrolan yang tercela seperti di atas; menjaga anggotatubuh lainnya dari dosa dan hal-hal yang tercela; meminimalisir makanan halalsaat berbuka; dan mewujudkan hati yang senantiasa harap-harap cemas terhadapditerima atau tidaknya puasa kita hari itu. Yang terakhir ini bahkan harusselalu diwujudkan pada setiap kita rampung dari suatu ibadah, bukan malahbangga dan merasa paling diterima ibadahnya.

Banyak orang berpuasa namun ia tidak memperoleh apa-apa daripuasanya kecuali haus dan lapar. Sabda Rosulullah SAW ini menunjukkan orangyang berpuasa namun ia berbuka dengan hidangan haram. Atau sabda inimenunjukkan orang yang berpuasa namun tidak menjaga anggota tubuhnya daridosa-dosa. Atau ia menunjukkan orang yang berpuasa, mampu menahan diri dariyang halal seperti makan sekedarnya, mencumbu istrinya, dan lainya namun ia tidak menahan diri dari perkara yang jelas-jelas haram, seperti adu domba,ghibah dan lain-lain.

Dua orang wanita pada masa Rosulullah berpuasa di siang yangamat terik. Puasa ini memayahkan mereka hingga pada penghujung hari merekahampir mati. Maka keduanya di utus untuk menghadap Rosul guna meminta izinuntuk berbuka. Kemudian Rosul melalui sahabatnya mengirimkan sebuah bejanauntuk mereka. Beliau berkata, “Suruh dua wanita itu memuntahkan apa yang telahia makan ke dalam bejana ini.”
Salah satu dari mereka memuntahkan darah segar dan dagingyang juga masih segar. Demikian juga wanita yang kedua hingga bejana tadipenuh. Orang-orang heran dengan kejadian ini. “Keduanya berpuasa dari apa yangAllah halalkan dan tidak berpuasa dari apa yang Allah haramkan; mereka dudukbercengkerama satu sama lain lalu saling membicarakan keburukan orang lain. Inilahyang mereka makan, yakni daging orang-orang yang mereka bicarakan keburukannya,” kata Rosulullah menjelaskan.

Lalu bagaimana dengan dugaan saya di atas? Benarkah Ramadhanmemberikan keistimewaan bagi orang-orang yang berpuasa di siang hari untukmenikmati sampai kenyang makanan di malam hari dengan hidangan yang pada bulanselain Ramadhan jarang ditemui? Terkadang pemberian keistimewaan untuk kitayang berpuasa justru meninggikan ego kita di hadapan orang yang tidak berpuasa.Salah-salah kita minta dihargai tinggi dan istimewa. Minta dihormati karenasedang berpuasa, atau minta seluruh warung makan dan diskotik tutup di bulanRamadhan ini. Kalau ini yang terjadi, nampaknya Ramadhan menjadi momok untuksebagian orang yang tak berpuasa dan kita mampu menahan diri dari yang membatalkanpuasa namun takut melihat realitas yang tidak kita menghormati kita yangberpuasa. Dari sinilah lahir militansi atas nama agama.

Jawabannya, Ramadhan tidak mengizinkan itu semua. Namun Ramadhanmemberikan pilihan. Apakah kita akan menghabiskan Ramadhan tahun ini samaseperti Ramadhan tahun lalu di mana kita masih berpuasa layaknya puasa umum?Atau kita memilih untuk menghabiskan puasa tahun ini dengan puasa yang lebihbermakna dan lebih dekat kepada terwujudnya tujuan puasa yang hakiki? Menjalanipuasa sebagai bekal naik kelas menuju puasa yang lebih tinggi lagi, yaituberpuasa dengan hati yang senantiasa menolak segala selain Allah masuk kedalamnya? Usaha kita untuk memilih. Allah jua yang akan memilihkan mana yanglayak untuk kita pada Ramadhan tahun ini. Wallahu A’lam.

Jakarta, 230811

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s