Jihad Nafsu

Ada lebih dari tujuh malam-malam istimewa yang Allah karuniakan kepada ummat Islam. Enam dari malam-malam itu ada di bulan Ramadhan, yaitu malam tujuh belas Ramadhan dan lima malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Mengenai malam ganjil pada sepuluh terakhir tentunya kita sudah sama-sama tau bahwa Rosulullah lebih intens beribadah pada moment ini. Ditambah lagi dengan hadits, “Sesungguhnya Allah itu ganjil (witr), menyukai yang ganjil,” maka para ulama berpendapat bahwa malam-malam ganjil itulah kemungkinan besar Lailatul Qadar ada, yakni pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.

Adapun mengenai malam tujuh belas Ramadhan maka satu pendapat mengatakan bahwa malam ini adalah malam pertama kali wahyu Allah turunkan kepada Rosulullah. Selain itu malam tujuh belas Ramadhan adalah malam peristiwa Badar. Hari ketujuh belas Ramadhan adalah hari penentuan kejayaan Islam, sebuah hari perjuangan dalam medan peperangan besar pertama dalam sejarah Islam awal.

Seusai perang Badar, Rosulullah kembali ke Madinah bersama pasukan muslim baik dari golongan Muhajirin maupun Anshar. Sabda beliau saat itu, “Kita pulang dari perjuangan (jihad) kecil menuju pada perjuangan besar.” Perjuangan besar yang beliau maksud adalah perjuangan melawan nafsu yang ada di dalam diri setiap manusia. Inilah jihad nafsu, sebuah perjuangan dan pertarungan abadi melawan diri sendiri pada setiap kita. Hadits ini serta merta dianggap dho’if oleh seseorang yang saya kenal puritan dan fundamentalis. Saya mengerti betul karena memang ia dari kelompok yang tidak bisa menangkap sisi batin di balik nash Al Qur’an. Kelompok ini hanya menangkap arti zhohir suatu teks baik Al Qur’an maupun Hadits. Bagaimana mungkin ia mau menelaah sisi psikis (batin) diri manusia kalau Al Qur’an yang ia cintai saja tidak pernah mereka telaah sisi batinnya. sudah barang tentu sikap keislaman kelompok ini pun hanya melulu menampakkan sikap zhohir seperti jihad di medan perang, penerapan syariat Islam, negara Islam yang ideal dan segala hal yang tampak formalisme simbolik dan kulit belaka. kulit tanpa isi. akhirnya gerakan yang terlahir dari kelompok ini adlah militansi kaku yang mau benar seendiri.

Kata nafsu dalam pengertian bahasa arab memiliki arti diri. Imam Ghazali menjelaskan nafsu dalam uraian yang gamblang. Nafsu dalam arti pertama adalah diri yang memiliki potensi untuk membenci dan menyukai sesuatu. Nafsu ini adalah perwujudan sisi buruk diri. Ia ada dalam setiap manusia. Nafsu inilah yang oleh para ahli tashawwuf dikekang dan dilawan karena egoistis. Sedangkan ego adalah perwujudan ke-aku-an dan ke-aku-an adalah musuh kehambaan yang dengannya seseorang akan terhijab dari Kebenaran. Inilah nafsu yang diperingatkan oleh Rosulullah dalam hadits di atas. Dalam hadits lain beliau menyatakan, “Musuh yang sebenar-benarnya musuh adalah dirimu yang ada di antara kedua sisimu.” Nafsu ini disebut dengan Nafsu Ammarah Bissu’.

Nafsu dalam arti kedua adalah diri dengan potensi halus keluhuran manusia. Inilah nafsu manusia yang sebenarnya. Nafsu ini memiliki karakteristik beragam. Namun dapat disederhanakan menjadi dua karakter; belum mantap dan sudah mantap. Jika ia masih belum mantap dalam kebaikan namun tetap menentang keburukan maka ia disebut Nafsu Lawwamah. Tidak seperti Nafsu Ammarah Bissu’, Nafsu Lawwamah mencela sang manusia yang masih durhaka kepada Tuhannya.
Manakala nafsu sudah mantap dalam kebaikan dan terus konsisten menentang kedurhakaan kepada Tuhan, maka ia disebut dengan Nafsu Muthmainnah. Inilah diri yang tenang. Jiwa yang condong kembali (tunduk) kepada Tuhan.

Alhasil, nafsu dalam arti yang pertama yakni nafsu ammarah bissu’ tidak mau kembali (tunduk) kepada Tuhan. Ia dijauhkan dari-Nya dan ia termasuk bala tentara Syetan untuk menjerumuskan manusia pemilik nafsu ini. Ini adalah diri yang tercela. Nafsu dalam arti kedua adalah manusia yang hakiki (sebenarnya). Ia adalah diri yang terpuji yang dapat mengenal Allah. Sebagai mana sabda Rosulullah, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.”

Pada momentum malam peristiwa Badar ini, marilah kita menilik pada posisi mana ‘diri’ yang ada dalam kemanusian kita. Dan selanjutnya kita menentukan akankah kita membiarkan kemanusian kita terperosok dan dikendalikan oleh diri jenis pertama, ataukah kita angkat kemanusiaan kita dengan membentuk diri menjadi diri jenis ke tiga. Diri yang tenang yang dipanggil oleh Allah, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho lagi diridhoi. Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku. Dan masuklah surga-Ku.”
Pilihan ada pada kita dan pertolongan hanya pada Allah kita mohonkan.

Jakarta, 270811

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s