Renungan Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah karunia yang Tuhan berikan kepada setiap manusia. Dengan kesadaranpenuh setiap orang sesungguhnya berhak untuk tidak dijajah oleh siapapun dan apapun kecuali oleh Sang Pemberi Kemerdekaan.

Sunan Kudus, salah satu dari Sembilan Wali di tanah jawa, mempunyai seorangmurid yang agak nyleneh. Murid ini biasa dipanggil dengan sebutan Syekh jangkung. Di antara beberapa kisah yang menceritakan pergaulan Sunan Kudus dengan muridnya yang nyentrik ini terdapat sebuah kisah yang sarat dengan pesan kemerdekaan. Di mulai pada saat Sunan Kudus menyuruh murid-muridnya untuk bersyahadat, yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah. Dan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Satu persatu murid mengucapkan syahadat. Ada yang dengan bahasa arab fasih, ada yang terbata-bata dengan logat jawanya yang masih kental dan ada yang dengan bahasa jawa saja. Giliran Syekh Jangkung bersyahadat di depan Sunan Kudus dan segenap murid-murid lainnya. Apa yang terjadi di luar dugaan dan harapan murid-murid yang sejak tadi menunggu ulah apa yang akan dilakukan Syekh Jangkung. Begitu saatnya dipersilahkan untu kbersyahadat, Syekh Jangkung ambil langkah ke luar padepokan. Di depan padepokan berdiri pohon kelapa tinggi menjulang. Ia memanjat pohon itu.Begitu sampai di puncaknya, ia terjun bebas menjatuhkan dirinya ke atas tanah. Suara keras tanah terbentur tubuh Syekh Jangkung mengagetkan para murid. Lebih mengagetkan lagi, Syekh Jangkung bangun sambil membersihkan pakaiannya dari sedikit debu yang menempel akibat benturan. Ia bangun dalam kondisi sehat wal afiat tak kurang sesuatu apapun dan tak merasakan rasa sakit sedikit pun.

Ketika ditanya oleh Sunan Kudus tentang pertunjukan ini, Syekh Jangkung menjawab,”Saya bersyahadat artinya saya tahu betul bahwa tidak ada yang layak disembah dengan sebenar-benarnya, tidak ada yang layak ditakuti, tidakada yang layak dikhawatirkan, tidak ada yang layak dicemaskan, tidak ada yang layak menakut-nakuti, mengkhawatirkan, mencemaskas, dan juga menjajah saya kecuali Allah. Saya tidak takut, khawatir dan cemas akan rasa sakit jatuh, atau kematian. Semua selain Allah tidak boleh menjajah dan menyiksa saya. Karena saya manusia yang diberikan kemerdekaan oleh Sang Pemberi Kemerdekaan. Maka Dialah yang berhak menjajah saya. Lain tidak!”

Sunan Kudus tersenyum penuh arti dilatarbelakangi murid-murid yang masih tercengang bercampur kagum.

Pada momentum yang katanya hari kemerdekaan ini, marilah kita menengok diri.Sudahkah kita bersaksi seperti kesaksian murid Sunan Kudus tadi? Sudahkah kita merdeka dari penjajahan rasa takut, rasa cemas, dan rasa khawatir yang timbul dari selain Tuhan? Sudahkah kita benar-benar merdeka dari desakan keinginan ego pribadi atau ego kelompok di manakita berada? Sudahkah kita benar-benar merdeka dari kebencian,kemarahan, iri, sombong, ujub, pamer, yang lahir akibat kita sudi dijajah oleh ambisi pribadi atau kelompok yang justru meremehkan manusia yang dimuliakan Tuhan dengan kemerdekaan?

Jawabannya ada di hati kita masing-masing. Semoga Tuhan membebaskan kita dari segalajenis penjajahan selain penjajahan-Nya, yakni penjajahan dalam arti penghambaan seutuhnya kepada-Nya saja. Hanya kepada-Nya.

Jakarta, 180810

About these ads

Tentang wajdi

adalah detik yang menggenapkan waktumu, titik yang melengkapi ruangmu
Tulisan ini dipublikasikan di lain-lain dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s